Hidup adalah . . .

Hidup adalah perjuangan
Maka hidup butuh pengorbanan karena tiada perjuangan tanpa pengorbanan

Hidup adalah pilihan
Maka hidup selalu beresiko karena pilihan memiliki resiko masing-masing

Hidup adalah ujian
Maka hidup butuh kesabaran karena ujian selalu menuntut kesabaran

Hidup adalah amanah
Maka hidup menuntut tanggung jawab karena setiap amanah akan dimintai pertanggungjawabannya

Hidup adalah perjalanan panjang
Maka hidup harus dengan cinta karena cintalah yang menjadikan sesuatu menjadi indah

Hidup adalah kebersamaan
Maka hidup harus saling percaya karena kebersamaan akan terjaga dengan kepercayaan
Hidup adalah ladang amal
Maka hidup haruslah ikhlas karena hanya amal yang ikhlas yang diterima Sang Pencipta

Ketika Belajar Tak Seindah Dulu Lagi

images

Belajar adalah proses seumur hidup. Sejak lahir hingga akhir hayat adalah proses belajar bagi manusia. Ketika kita baru dilahirkan kita belajar cara meminta makan ketika lapar. Kemudian kita belajar telungkup, belajar merangkak, belajar duduk, berdiri, berjalan, berlari dan seterusnya. Kita belajar satu dua kata baru. Kita belajar menghitung angka 1, 2, 3, 4 dst. Kita terus bertumbuh dan berkembang. Semua itu didapat dari proses belajar yang kita lakukan. Belajar yang kita maksud adalah belajar dalam skala besar. Tak hanya sekedar belajar di bangku pendidikan. Continue reading

Di antara 2 Ayat

Qur'an

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan
Yang mengajar dengan Qalam
Yang mengajarkan manusia apa yang tak mereka ketahui

Ada dua ayat Tuhan yang harus kita baca karena dengan dua cara inilah Tuhan menurunkan ilmu-Nya kepada ummat manusia. Ada ayat Qauliyah adapula ayat Kauniyah. Sebagaimana namanya, ayat Qauliyah adalah ayat-ayat berupa firman Tuhan yang dalam agama Islam kita kenal dengan nama Al Qur’an. Ayat Qauniyah ini kemudian menjadi pedoman dasar khususnya bagi manusia dalam melintasi cakrawala kehidupannya. Mengapa demikian? karena di ayat-ayat inilah segala aturan yang mengatur hidup manusia, hubungannya dengan Tuhan atau kepada sesama manusia digariskan. Selanjutnya ayat-ayat ini dijabarkan, dipertegas melalui hadits-hadits Rasul-Nya Muhammad Saw. Di dalam ayat Qauniyah ini pula Continue reading

Ana Uhibbukum fillah

tasbih

Pernah suatu masa Rasul Saw yang mulia bertutur “Di sekitar Arsy  akan ada menara cahaya, penghuninya berpakaian cahaya, mereka bukan nabi bukan pula syuhada namun para nabi dan syuhada iri kepada mereka”
Siapakah gerangan mereka? Apa yang telah mereka perbuat? Kebaikan apa yang mereka miliki sehingga memiliki kemulian di sisi Tuhannya sedemikian rupa? Sehingga para nabi terdahulu dan para syuhada merasa iri akan kemulian yang mereka raih?
Rasulullah saw melanjutkan kalimatnya “Merekalah yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah”.

Telah tersingkap tabirnya, telah nampak cahayanya, rahasia kemulian mereka. Tak lain dan tak bukan adalah ikatan persaudaraan yang mereka bangun tegak di atas kekokohan aqidah Islam. Itulah ukhuwah, hubungan manusia yang tak berlandaskan darah, harta, atau dunia. Hubungan manusia yang menjadikan Allah sebagai perekatnya, Allah sebagai tujuannya, Allah sebagai motivasinya.

Teringat kisah penghulu kita Nuh as ketika memohon kepada Tuhannya agar sang putra diampunkan atas kesalahannya. Tuhannya yang Maha Agung berfirman “Wahai Nuh dia bukanlah bagian dari keluargamu karena perbuatannya bukan perbuatan yang shaleh”. Sungguh inilah pelajaran bagi kita, ummat akhir zaman. Di mana kilau gemerlap dunia lebih menyilaukan mata kita dari cahaya kemulian Allah. Hubungan apapun di dunia ini hanyalah hubungan yang fana bahkan hubungan darah sekalipun. Kecuali hubungan yang kita bangun di atas pondasi keimanan pada-Nya, bernaung di bawah atap Keridhaan-Nya. Itulah hubungan yang kekal hingga hari yang telah dijanjikan. “Sesungguhnya hanya orang-orang mukminlah yang mampu menjalin ukhuwah”. Yaa begitulah kita kembali diingatkan oleh-Nya. Tak akan bisa ukhuwah terbangun tanpa iman. Jika ukhuwahmu bermasalah maka periksalah imanmu. Mungkin dia sedang tak baik-baik saja. Jika ukhuwahmu bermasalah maka periksalah hatimu. Mungkin ada sakit di dalamnya.

Cintamu kepada saudaramu semoga kelak menjadi alasan di hadapan-Nya untuk mendapatkan kemulian di Sisi-Nya. Semoga dirimu kelak menjadi saksi bagi sahabatmu untuk mendapatkan Kemurahan-Nya. Semoga jejak-jejak kaki, tetesan keringat karena perjalanan menjenguk saudaramu menjadi saksi agar Allah memberikan Keridhaan-Nya.

Ukhuwah bagai seutas Tasbih
Ada awal namun tiada akhir
Dicipta untuk mengingat-Nya
Disusun untuk mengharap Ridha-Nya

Ketika Jumlah Kita Sedikit

one of many

Oleh : Shahru Saifuddin

Ikhwah fillah, terkadang kita bingung memikirkan organisasi/jamaah kita yang hanya segelintir orang ini. Padahal tugas dan amanah dakwah sangat banyak, hampir semua bidang kita geluti. Memang tujuannya adalah agar bisa menjangkau semua sisi kehidupan, karena itulah tujuan dakwah. Namun apa yang terjadi, amanah kian menumpuk yang hanya diemban oleh segelintir orang saja, jadinya 4L (Loe Lagi Loe Lagi). Di organisasi kampus ada “loe”, organisasi masyarakat ada “loe”, organisasi pemerintah juga ada “loe”. Di mana-mana ada “Loe Lagi”. Kalau tidak kuat dalam mengemban amanah bisa menyebabkan futur. Na’udzubillah. Continue reading

Allah Tahu Kita Sibuk

oleh : Aba Abdir Rahman

Sebagai seorang da’i, atau sebagai seorang anggota lembaga yang menamakan dirinya sebagai lembaga da’wah, sudah seharusnyalah ia mempunyai hubungan yang kokoh kuat (quwwatush-shilah) dengan Allah swt.

Ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai opsi atau pilihan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan tersebut.

Di dalam al mustakhlash fi tazkiyatil anfus Sa’id Hawa rahimahullah menyebutkan 13 sarana yang bisa kita jadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Mulai dari shalat, zakat-infaq-sedekah, puasa, haji, tilawatul qur’an, dzikrullah, tafakkur alam dan seterusnya.

Meskipun demikian, kita masih sering merasakan adanya kekeringan ruhani, karena kita memang sangat jarang mengalirinya dengan siraman-siraman ruhani yang berupa sarana-sarana tersebut. Atau istilah accu-nya, kita jarang ngeces accu dan baterai ruhani yang kita miliki dengan sarana-sarana Islamiyyah itu tadi.

Alasan yang sering kita kemukakan selalu sama dan klasik: sibuk dan repot alias susah mengatur dan mendapatkan waktu senggang untuk menyiram dan mengecesnya.

Kadangkala, kalau kita sedang berkumpul dengan sesama kader, kita ingat bahwa ruhani kita sedang sangat kekeringan. Namun begitu keluar dari majlis ikhwah, kita kembali lagi menjadi manusia-manusia yang “sibuk”.

Namun, kita perlu mengingat bahwa kesibukan kita tidak berarti meninggalkan langkah-langkah untuk melakukan siraman-siraman dan pengecesan ruhani kita. Continue reading

Selamat Natal, Haramkah?

Kultwit by Salim A. Fillah @salimafillah

Kontroversi ucapan selamat natal kepada Kaum Nasrani selama ini telah mengemuka, dan terkesan tidak pernah rampung dibicarakan. Ustadz SalimA Fillah melalui Kultwitnya siang ini (24 Desember 2011) menyajikan pembahasannya secara seimbang dengan mengetengahkan beberapa pendapat. Silakan simak kultwit #Natal berikut, atau langsung ke TL @salimafillah:

Ada kesalahfahaman. Di teks Fatwa MUI; yang haram adalah PERAYAAN NATAL BERSAMA, bukan ucapan selamat; http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html

Sayang sekali; banyak yang tak membaca teks Fatwa MUI; lalu mengharamkan atas nama mereka apa yang tiada di teks; atau terlanjur memaki..

1. #Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi’an; “Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak.”

Continue reading

Fatwa-fatwa tentang Selamat Natal

Originally posted on Sam Ardi's Blog:

Sore tadi saya sharing di twitter soal boleh atau tidaknya sesorang yang beragama Islam mengucapkan “selamat natal” terhadap sahabatnya yang non Islam. Saya melihat perdebatan di Twitter sudah seperti debat kusir, dan ironisnya yang terlibat debat kusir justru orang-orang yang dianggap senior, intelektual, dan jam terbang di masyarakat sudah tinggi.

Miris rasanya melihat kelakuan seperti itu di Twitter, apa ya tidak malu jika dilihat dan dibaca oleh followernya? Masalah utamanya adalah saya sangat yakin pihak yang pro dan kontra pengucapan selamat natal tersebut belum membaca fatwa baik yang pro dan kontra pengucapan selamat natal. Mengapa saya yakin? simple, mengutip redaksi fatwa saja salah.

twitter

Agar tidak terjadi kekisruhan maka tadi sore saya share di Twitter fatwa dari kedua kubu. Fatwa sendiri memang ranah “ijtihad” sehingga tidak bisa saling menggugurkan karena terkait situasi dan kondisi seorang mujtahid ketika mengeluarkan fatwa tersebut. Berikut ini adalah fatwa dari pihak pro dan kontra.

View original 981 more words

Halaqah Tarbawi

Halaqah adalah salah satu sarana Tarbiyah. Halaqah ini adalah sebuah kelompok kecil yang beranggotakan seorang naqib dan beberapa a’dha, atau mad’u, atau bisa disebut dengan nama binaan. Halaqah biasa juga disebut dengan usrah (keluarga). Penamaan-penamaan ini sebenarnya adalah cerminan dari fungsi halaqah dalam membina, membentuk para anggotanya. Halaqah ini dilakukan setiap pekan dan memiliki agenda-agenda yang tersusun sehingga apa yang diharapkan dari pelaksanaannya bisa tercapai.

Kelompok kecil ini disebut halaqah karena orang-orangnya membentuk lingkaran ketika bertemu setiap pekannya. Jadi pada halaqah ini tak ada perbedaan posisi antara naqib dengan mad’u-nya. Berbeda dengan majelis ta’lim yang biasanya ustadz berada di depan sendiri dan jamaahnya berada pada barisan tersendiri. Namun pada halaqah posisi naqib itu membaur dengan mad’u-nya.

Kelompok kecil ini disebut usrah karena salah satu fungsi naqib yaitu fungsi orang tua. Naqib menjadi orang tua bagi mad’u-nya. Itulah salah satu keistimewaan kelompok ini karena ia dibentuk untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan di antara sesamanya. Memberikan nasehat, solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh setiap pribadi di dalam usrah tersebut. Berbagi kabar gembira dan kabar duka serta saling memotivasi agar senantiasa komitmen dalam berislam. Continue reading

Maratib Amal dan Mihwar Dakwah

Setiap marhalah ada tantangannya dan setiap marhalah ada rijal (orang)-nya
Begitulah sebuah ungkapan yang menggambarkan kepada kita bahwa dakwah itu sesuatu yang memiliki sisi fleksibilitas dalam perjalanannya. Namun perlu dipahami juga bahwa dakwah itu memiliki sisi yang kaku yang tidak boleh berubah sepanjang masa. Pembagian fase dakwah ke dalam marhalah-marhalah adalah bagian dari fleksibilitas dakwah untuk memudahkan para aktivisnya dalam mengemban amanah dakwah. Maka pembagian marhalah atau tahapan dakwah ini tidak ditemukan nash yang tetap tentang pembagiannya. Ini bagian dari ijtihad para mujtahid dalam menentukannya sesuai dengan pemahaman dan kapasitas masing-masing. Hasan AL Banna membagi tahapan dakwahnya dengan istilah Maratibul amal. Maratibul amal terdiri dari 7 tahap yaitu :
1.Perbaikan diri sendiri (bina’usy syahsiyah islamiyah), sehingga ia menjadi orang yang sesuai dengan muwashafatnya

  • fisiknya (qowiyyul jismi),
  • akhlaknya (matinul khuluq),
  • wawasannya (mutsafaqul fikri),
  • mencari penghidupan (Qodirun Alal Kasbi),
  • aqidahnya (salimul aqidah),
  • ibadahnya (shohihul ibadah),
  • bagi dirinya sendiri (Mujahadatul Linafsihi),
  • perhatian akan waktunya (Harishun Ala Waqtihi),
  • rapi urusannya (Munazhzhamun fi Syuunihi), dan Continue reading