Karena Kamu Aku

Beberapa hari yang lalu saya belajar tentang suatu pelajaran yang luar biasa. Belajar tentang saling menghargai. menghargai seseorang sebagaimana menghargai diri sendiri. terkadang kita tanpa sadar ataupun dengan kesadaran diri merasa lebih baik dari orang lain atau malah meremehkan orang lain. Apakah karena strata sosial, pekerjaan, pendidikan, dan sebagainya. kita berbuat seenaknya dengan pertimbangan tadi, yaa saya lebih baik dan lebih mulia dibanding dia.

saya lebih kaya, jabatan saya lebih tinggi, pendidikaan saya lebih baik, lebih lebih lebih dibanding anda.itulah semua yang menjadi pertimbangan kita. kita menilai seseorang hanya dari “pakaian kerjanya” atau dari tampangnya atau dari hal-hal yang tampak yang sebenarnya tidak mencerminkan diri orang tersebut secara sempurna. persepsi yang terbangun membuat kita memberikan penilaian sebelum bergaul, bercengkrama, berkomunikasi lebih lanjut. dan akhirnya sampailah kita pada kesimpulan saya lebih baik dari dirinya.

Kadang pula kita kurang menghargai seseorang karena kita menganggap mereka masih muda. belum mengerti apa-apa. kita lebih senior dibanding dia. akibatnya, kita menghakimi kreatifitasnya, mengungkung kebebasannya dengan berbagai alasan yang bisa mereka terima atau dipaksakan diterima. Tentu saja ini bukan pola interaksi yang baik. tentu saja proses yang tidak baik akan menghasilkan sesuatu yang tidak baik pula.

Di dalam hadits Rasulullah saw bersabda :

“Tidak masuk syurga orang yang ada dalam hatinya seberat biji sawi dari kesombongan. Maka seorang lelaki bertanya: Sesungguhnya seseorang menyukai pakaiannya yang bagus dan seliparnya yang elok. Nabi menjawab: Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan, sombong itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR Muslim)

Allah swt pun menegaskannya dalam Al Qur’an

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim” (Hujuraat 49:11)

…Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat 13)

Apa yang kita tanam itu pulalah yang akan kita petik. tidak mungkin menanam rumput dan berharap menuai padi. begitu pulalah kita dalam bergaul. jika ingin menuai penghargaan maka tanamlah penghargaan kepada oang lain. Bagaimana mungkin anda dihargai dengan ikhlas ketika anda tidak mampu memberikan penghargaan kepada orang lain. Karena Kamu Aku, karena aku ingin dihargai berarti kamu juga ingin dihargai. Saling menghargai adalah ajaran yang mulia. mulia di mata manusia mulia di mata Allah swt. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s