Inilah jalanku

Bismillahi Rahmani Rahim

Innalhamda lillah nahmaduhu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruhuu wa na’uudzu billahi min syuruurinaa wa anfusinaa min sayyiaatinaa a’maalinaa man yahdillahu falaa mudhillalahu wa man yudhlilhu falaa hadiiyalahu. Asyahudu anlaa ilaaha illallaahu wa asyahadu anna muhammadan abduhuu wa rasuuluhu. Allaahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa sahib ajmain ammaa ba’du.

Segala puji Allah swt yang telah mentakdirkan saya lahir di tengah-tengah keluarga muslim. Keluarga yang mendidik dan membesarkanku dengan nilai-nilai Islam. Berbeda dengan sebagian manusia yang harus lahir di tengah keluarga yang belum memeluk agama Tauhid ini, agama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa. Mereka yang telah terlahir dengan fitrah, bersih, suci tanpa noda, yang telah bersaksi di alam rahim bahwa Allah-lah Tuhan (Rabb) mereka. Namun setelah lahir ke dunia bukanlah suara adzan dan iqamat yang mereka dengar, bukanlah seruan kepada Allah yang diserukan kepada mereka. Mereka yang harus dibesarkan jauh dari nilai-nilai Islam dan nilai-nilai ketauhidan. Sekali lagi ucapan puji syukur tak terbatas saya haturkan kepada Allah swt atas nikmat yang sangat besar ini. Nikmat yang tidak bisa dibeli dengan materi.

Waktu berjalan, berputar tanpa henti. Mempergulirkan siang dan malam dan begitu seterusnya. Hari berganti dengan hari yang lain, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun. Akhirnya saya memasuki usia baligh, usia diwajibkannya segala macam ibadah dalam agama ini. Usia yang menuntut pertanggungjawaban atas segala amal yang dilakukan. Usia yang memungkin untuk membedakan antara yang haq dan yang bathil, berpikir kritis terhadap segala sesuatu yang terjadi. Usia yang mengantarkan ke persimpangan jalan, jalan kebaikan dengan berbagai tantangannya atau jalan kesesatan dengan berbagai macam godaannya. Di sinilah posisiku, persimpangan jalan yang tentu akan mengantarkan ke ujung yang berbeda.

Kadang kuberpikir mengapa harus Islam agamaku? Agama yang menjadi agama orang tua dan keluargaku? Ada banyak agama dan kepercayaan di luar sana dengan ajarannya masing-masing. Semuanya menjanjikan kebahagian bagi yang taat dan patuh dan siksa bagi yang ingkar. Mengapa saya harus menjadi seorang muslim dengan berbagai macam ibadahnya yang menurut sebagian orang berat. Hanya ada satu jawaban, inilah satu-satunya agama yang sempurna. Satu-satunya agama yang dalam kitab sucinya tercantum suatu “ayat penetapan” kesempurnaannya. “…pada hari telah Kusempurnakan untukmu agamamu, telah kucukupkan untukmu nikmatKu,dan Aku meridhai Islam ini menjadi agamamu..” (Q S Al Maidah :3). Inilah agama yang dibawa oleh penutup para nabi dan Rasul. Batu bata terakhir dari bangunan islam yang indah. Teringat perkataan beliau SAW “Seandainya Nabi Musa AS masih hidup sampai hari ini, maka tidak ada pilihan lain selain dia harus mengikuti risalah ini”. Nabi Musa AS saja yang seorang Rasul yang juga diceritakan dalam Injil harus mengikuti agama ini apatah lagi saya yang manusia biasa ini. Dan tentu perkara ini tidak hanya berlaku bagi nabi Musa AS saja tetapi seluruh manusia yang hidup sampai saat ini tidak punya pilihan lain selain memeluk agama ini dan menjalankannya jika ingin mendapatkan keselamatan dunia dan akhirat. Memang tidak ada pilihan lagi bagiku selain mempersaksikan diri Asyahudu an Laa ilaaha illallaah wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhuu wa rasuuluhuu.

Inilah dua kalimat persaksian sebagai bentuk ketundukan kepada semua ketetapan Allah swt. Inilah dua kalimat yang dikatakan oleh Rasulullah saw kepada pemuka kafir Quraisy “jika engkau mengucapkannya maka engkau akan menjadi penguasa arab dan di luar arab”. Kalimat pertama menjadi orientasi kehidupan. Segala amal, perbuatan, ucapan bahkan bersitan hati tidak lain untuk mengharapkan keridhaan-Nya, tiada lain selain ditujukan kepada-Nya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan sekalian alam. Inilah keikhlasan syarat pertama ibadah yang diterima. Kalimat yang kedua adalah teladan, tuntunan, serta model dalam menjalani kehidupan, dalam menjalankan agama ini. Segala amal perbuatan kita, ibadah yang kita laksanakan sesuai dengan petunjuk Rasulullah SAW. Tidak menambah-nambah tidak pula mengurangi. Tidak mengambil sebagian dan mengabaikan sebagian yang lain. Telah ada pada diri Rasulullah saw suri teladan yang baik. Inilah ittiba’, keteladanan kepada Rasulullah SAW. Syarat kedua ibadah yang diterima. Inilah pondasi agama islam, tak terlihat tapi menentukan tegaknya bangunan, menentukan kekokohannya menahan goncangan, cobaan yang akan datang setiap saat. Inilah jalanku semoga keistiqomahan senantiasa mengiringinya. Inilah jalanku jalan yang lurus. Inilah jalanku jalan yang pernah ditempuh orang-orang yang shaleh. Inilah jalanku tidak ada jalan selainnya. Saya memohon kepada Allah swt “Allaahumma arinal haqqa haqqan warzuqnaat ittibaa’a wa arinal baathila baathilan warzuqnaa ihtinaaba” (yaa Allah tunjukkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran dan berikanlah kekuatan untuk melaksanakannya dan tunjukkanlah kebthilan itu sebagai suatu kebathilan dan berikanlah kekuatan untuk meninggalkannya).

Aamiin.

Subhaanakallaahumma wa bihamdika asyahadu an laa ilaaha illa anta wa astaghfiruka wa atuubu ilaika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s