Diam dan Dengar

diam lebih baik

Manusia memang makhluk yang penuh dengan keluh kesah. Tiada hari tanpa keluh tiada hari tanpa kesah. Ada-ada saja yang bisa dikeluhkan. Mulai dari hal-hal kecil, sepele sampai urusan-urusan yang besar. Dari urusan pribadi hingga urusan orang lain. Coba tengok News Feed Facebook tak sedikit yang berjejer di sana adalah keluh kesah si anak cucu Adam.  “Aduuhh sudah telat di suruh duduk depan lagi” atau “bosssaaannn” dan berbagai keluhan yang lain.

Yaa.. itu wajar saja. Begitulah fitrah manusia. Ia memang dicipta penuh keluh dan kesah, kata guruku. Namun kenyataannya, ada juga di antara manusia mereka yang pantang mengeluh. Musibah, cobaan, kesusahan hidup tak lantas menggerakkan mulut dan lisannya melontarkan sedikitpun keluh. Kepada dirinya saja tidak apalagi kepada orang lain. Ada ketegaran di setiap langkah mereka. Ada semangat yang memancarkan dari sorot matanya. Hidupnya penuh dengan gairah meskipun beban yang dipikulnya lebih berat dari manusia pada umumnya. Lantas apa yang membedakannya????

Setiap manusia dibekali hati dan akal oleh Sang Maha Pencipta. Ada hati untuk merasa, menimbang, dan ada akal untuk berpikir, memahami. Manusia tidak dilepas ke tengah hiruk pikuk dunia tanpa bekal yang cukup. Namun kebanyakan dari kita merespon peristiwa dengan berbagai keluh kesah yang sebenarnya tidak perlu. Keluh kesah yang selanjutnya hanya akan melemahkan hati kita untuk tetap tegar, menahan kaki kita untuk terus melangkah, meningkatkan gravitasi sehingga kepala kita tak mampu lagi menegadah tegak memandang langit. Kita terlalu ribut dengan berbagai keluh kesah lisan  sehingga telinga ini tertutupi dari curahan dan pertimbangan hati. Fatwa hati yang diliputi kebenaran tenggelam di antara keluh kesah. Akhirnya apa yang diterima akal dari telinga hanya hal-hal negatif, sesuatu yang buruk yang jauh dari kebenaran hati. “Mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah sesuatu yang membat hatimu gelisah” , begitu pesan teladan mulia kita.

Tutuplah 1 mulutmu dan 1 telingamu, maka kamu akan diam namun tetap mendengarkan. Terkadang kita harus diam sejenak, mendengarkan fatwa hati. Cobalah mengurangi keluh kesahmu semoga hidupmu menjadi lebih bersemangat…

Advertisements

2 thoughts on “Diam dan Dengar

  1. Hati sampai kapanpun tidak akan bisa berbohong, bahkan saat pemiliknya berdalih dengan banyak alasan sekalipun. Barangkali inilah sebab mengapa hati disebut raja dalam tubuh manusia. Subhanallah

    Like

    1. Kalo dalam sebuah hadits dikatakan hati itu adalah segumpal daging yang akan mempengaruhi seluruh bagian tubuh manusia. Jika hatinya baik maka baik seluruhnya, jika hatinya buruk maka buruklah semuanya.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s