Waktu dan Amal

Waktu AmalWaktu adalah makhluk yang misterius bin aneh. Lebih misterius daripada Alien sekalipun. Coba anda bayangkan, manusia menyepakati waktu yang ada dalam sehari semalam jika dikonversi ke dalam jam adalah 24 jam. Setiap manusia mendapat jatah 24 jam setiap harinya. Namun pada kenyataannya apa yang dihasilkan manusia dalam rentang waktu itu berbeda-beda. Perasaan manusiapun berbeda-beda. Ada orang yang mampu mengerjakan sekian banyak pekerjaan dalam rentang waktu tersebut. Ada yang mengerjakan lebih sedikit ada juga yang bahkan mampu lebih banyak. Pekerjaannya bisa jadi sama namun apa yang mereka hasilkan berbeda. Contoh sederhana seorang mahasiswa dalam rentang waktu 24 jam bisa menyelesaikan tugas kuliahnya, melaksanakan kegemarannya (olahraga dsb), bergaul dengan teman-temannya, bahkan ada yang bisa kerja part time. Namun ada juga mahasiswa jangankan kerja part time, untuk menyelesaikan tugas kuliahnya saja dia harus mengorbankan waktu untuk mengerjakan kegemarannya. Mungkin contohnya tidak terlalu pas ya, tapi semoga apa yang saya ingin saya sampaikan bisa diterima :).. Ngarep!!!

Selain hasil kerja, perasaan manusia terhadap waktupun berbeda. Ada yang merasa waktu berjalan sangat lambat namun ada juga yang merasakannya sangat cepat. Jadi memang waktu itu sangat relatif… Teringat relativitas waktunya Einstein deh… Bagi orang yang tidak ada pekerjaan waktu akan terasa begitu lama. Namun bagi para pekerja, orang dengan aktivitas bejibun maka waktu itu tak pernah terasa cukup. Kalo Imam Hasan Al Banna mengatakan begini “Kewajiban itu lebih banyak dari waktu yang kita miliki”. Jadi menurut beliau waktu itu tidak akan pernah cukup untuk menyelesaikan kewajiban-kewajiban kita. Bagi orang yang berprinsip seperti ini maka 24 jam sehari yang mereka miliki akan terasa sangat sempit untuk menyelesaikan aktivitasnya.

Waktu ini memang aneh. Bagi orang kapitalis waktu itu adalah uang. Orang Arab menyebutnya waktu itu adalah pedang. Entah dengan apa lagi waktu itu diibaratkan. Ya, tergantung cara setiap orang mempersepsinya. Itulah anehnya waktu ini. Satu makhluk namun banyak sekali persepsi di baliknya. Mirip-mirip cintalah :D.

Terus bagaimana konsep waktu itu sebenarnya? Semalam saya dapat pencerahan dari seorang “guru” yang tidak pernah saya panggil “guru” tapi hanya dipanggil “kakak”. Beliau mengawali penjelasannya dengan sebuah cerita. Ketika beliau berselancar di internet mencari buku untuk koleksi di perpustakaan pribadi di rumahnya dia menemukan sebuah buku Fiqh Islam yang jauh lebih tebal dari ensiklopedia Amerika Serikat. Tapi sayang saya lupa judul dan penulisnya. Yang saya ingat buku ini ditulis pada masa Khalifah Harun Al Rasyid. Terus beliau bilang begini “Penulis buku ini umurnya hanya sekitar 60 tahun. Namun beliau mampu menghasilkan sebuah karya yang sangat luar biasa seperti ini. Hebatnya lagi selain buku ini ada ribuan karya yang telah beliau hasilkan. Namun coba  bandingkan dengan kebanyakan kita. Apa yang telah kita hasilkan dengan umur yang telah kita peroleh? Hakikatnya, umur itu bukanlah waktu yang kita miliki. Waktu yang kita miiliki adalah bagian dari umur yang kita gunakan untuk beramal dan dengan amal itu mendatangkan keberkahan (bagi diri sendiri dan orang lain) dan Keridha-an Tuhan. Coba perhatikan ketika Allah berbicara tentang waktu maka di sana ada perintah beramal. Begitu juga dengan hadits-hadits Nabi SAW. Contoh sederhana surah Al Ashr. Ketika Allah bersumpah atas nama waktu (Ashr) maka Allah mengiringinya dengan perintah beramal Shaleh dan saling menasehati agar kita tidak termasuk orang yang rugi. Ada ayat tentang malam Lailatul Qadr yang lebih mulia dari 1000 bulan jika kita isi dengan amal kebaikan. Begitu pula dengan hadits tentang keutamaan shalat sunnah 2 rakaat sebelum subuh yang lebih baik dari dunia beserta isinya”.

Jadi intinya bukan masalah berapa lama umur namun seberapa berkah umur yang kita miliki. Jika Umur itu mampu kita manfaatkan dan mengelolanya dengan baik maka ia akan menjadi waktu yang kita miliki. Waktu yang singkat jika digunakan untuk mencari keberkahan dan Ridha Tuhan maka akan lebih bermanfaat. Maka isilah umur-umur kita dengan amal kebaikan agar kelak ia menjadi pemberat bagi timbangan kebaikan kita. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata “Jika anda tidak menyibukkan diri anda dengan kebenaran, maka ia (waktu) akan menyibukkan anda dengan kebathilan”. Dengan kata lain, saat kita mengisi seluruh waktu untuk melakukan kebaikan maka tak akan ada waktu untuk melakukan keburukan.. Karena waktu itu terus berjalan.

 

Semoga bermanfaat.. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s