Aqidah Dasar Amal : Hati dan Fisik

hati

Tiada hari tanpa amal. Itulah kehidupan manusia. Ada yang beramal baik ada pula yang beramal buruk. Yaaa seperti itulah sunnatullahnya, setiap makhluk berpasang-pasangan. Setiap amal keburukan pasti akan dibalas dengan keburukan. Namun sadarkah kita bahwa tidak semua amal kebaikan itu akan dibalas dengan kebaikan di sisi Tuhan??? Kenapa bisa?? Kok begitu??? Adilkah Tuhan jika seperti ini?? tanya ibu Budi..

Coba kembali kita renungi, ingat-ingat, 2 buah hadits Nabi Yang Mulia Muhammad saw yang kemudian oleh para ulama ditetapkan sebagai dua syarat diterimanya amal ibadah (amal kebaikan) seseorang. Hadits pertama yang mungkin kita banyak yang menghafalkannya meski tidak sempurna. Sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim. Hadits yang berasal dari Amirul Mukminin Umar ibn Khattab ra “Sesungguhnya amal itu bergantung pada niatnya, dan setiap amal itu (akan dibalas) berdasarkan niatnya. Maka siapa yang hijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka (pahala hijrahnya) kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa hijrah karena  dunia yang dicarinya  atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang ia tuju”. Hadits kedua diriwaytkan Imam Muslim yang berasal dari Ibu Kaum Muslimin Aisyah ra ketika beliau menyampaikan sabda Rasulullah saw “Barang siapa yang beramal yang petunjuknya tidak berasal dari kami, maka amal itu tertolak”.

Inilah aqidah Islam. Ikatan, janji setia seorang hamba kepada Tuhannya yang mendasari setiap amalnya. Tidak ada amal yang ditunaikannya selain ditujukan kepada Tuhannya. Kemurnian niatnya, ketulusan hatinya menjadi penggerak untuk senantiasa melahirkan amal-amal kebaikan. Maka tidak semua yang tampak di mata kita sebagai kebaikan akan berbalas kebaikan di sisi Tuhan. Amal yang ditunaikan untuk mencari puji-pujian dari sesama manusia, atau untuk kepentingan nafsu sendiri, untuk kehidupan dunia kita tanpa didasari karena Allah semata maka tidak ada kebaikan di sisi-Nya. Bahkan ia dihukumi sebagai persekutuan kecil terhadap Allah swt. Maka tersapulah amalnya seperti tersapunya tanah di atas batu licin yang tersiram hujan lebat. Tiada yang tersisa bahkan sebutir tanah pun. Sia-sialah usahanya, melayanglah keburuntungannya tergantikan oleh kerugian yang menghampiri. Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu bergantung pada niatnya. Niat yang ada di dalam hatinya.

Inilah aqidah Islam. Ikatan, janji setia seorang hamba kepada Tuhannya yang mendasari setiap amalnya. Tidak ada amal yang ditunaikannya selain sesuai dengan tuntunan suri teladan mulia. Tiada menambah-nambah tiada pula mengurangkan. Selalu sejalan dengan nash Al Qur’an dan sunnah Rasulullah saw. Akhlak yang mulia, ibadah yang  shahih senantiasa dilaksanakan. Maka tidak semua yang tampak di mata kita sebagai kebaikan akan berbalas kebaikan di sisi Tuhan. Ibadah yang begitu khusyu’ bisa saja berbalas siksa karena tak ada tuntunannya. Harta yang dikeluarkan zakat, sedekah, wakaf, hadiahnya bisa saja berbalas bara neraka karena berasal dari jalan yang haram. Tujuh ranting pahalamu yang setiapnya berbuah seratus bisa saja layu tak berfaedah karena lisanmu menyakiti hati anak yatim dan orang miskin yang engkau beri makan. Sesungguhnya amal perbuatan yang tiada petunjuk dari Rasulullah saw maka ia akan tertolak. Tata cara, tingkah laku fisik haruslah sesuai tuntunan petunjuk Sang Teladan Sempurna.

Aqidah islam yang mendasari amal memberi dua syarat kesempurnaan amal. Amal hati berupa niat dan amal fisik berupa tata cara sesuai syariat. Namun pada kenyataannya, amal hati tak terbatas kepada niat. Rasa cinta dan takut kepada-Nya, tawakkal, ridha, syukur dan membersihkan hati dari noda-noda dengki, iri, sombong , hasad, riya adalah amal hati yang tak kalah pentingnya. DR. Yusuf Qardhawi dalam Fiqh Aulawiyatnya menjelaskan sungguh amal hati di atas amal fisik. Amal hati lebih prioritas dibanding amal fisik. Bagaimana tidak hatilah yang mendorong untuk melakukan perbuatan (amal fisik). Amal fisik akan diridhai Allah swt apabila hati telah diisi dengan iman, ikhlas, cinta dan takut kepada-Nya ketika kita melaksanakan amal-amal fisik tersebut. Namun ketika hati ini kosong dari ingat pada-Nya, tidak ikhlas karena-Nya, maka amal fisik kita seolah hampa, tak bermakna. Shalat tak lagi mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat tak lagi mensucikan harta dan hati orang yang berzakat. Puasa hanya berbuah lapar dan dahaga. Seperti jasad tanpa jiwa, hidup tapi tak hidup. Meski demikian, kedua amal ini tak bisa dipisahkan. Fokus pada satu amal dan mengabaikan amal yang lain. Amal hati membutuhkan amal fisik sebagai pembuktian. Amal fisik membutuhkan amal hati semoga ruh, pendorong, semangat, jiwa yang akan menghidupkannya, menjadikannya bermakna, dan menghasilkan buah di syurga. Maka penuhilah keduanya sesuai dengan porsinya masing-masing. Berbuat adillah kepada keduanya dan bersikap tawazunlah dalam menjaganya.

“Aqidah adalah pondasi amal; amal hati lebih penting daripada amal fisik. Namun, usaha untuk menyempurnakan keduanya merupakan tuntutan syariat,meskipun kadar tuntutan masing-masingnya berbeda” Hasan Al Banna

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s