COOPS : Ikut Seleksi (4)

Medical Check UpSalah satu hal yang menggembirakan adalah lulus wawancara ‘kerja’. Satu tahapan yang kadang menjadi momok bagi para pencari kerja. Bagaimana tidak, tidak ada yang tahu apa yang ada di pikiran interviewer ketika mewawancarai kita. Setelah mendapat telepon dari Pak Dimas rasanya cukup lega mendengar kabar tersebut. Soalnya dari jurusanku kini tersisa 4 orang saja. Prodi Elektro dan Informatika sama-sama punya 2 calon. Setelah menyampaikan lokasi MCU (Medical Check Up) Pak Dimas berpesan agar malam harinya tidak usah lagi makan mulai jam 10 malam sampai diperbolehkan oleh tim dokter untuk makan. Cukup minum saja katanya. Saya heran juga kok kita diminta seperti itu. Sampai akhirnya saya bertanya ke teman kos yang sedang menjalani pendidikan profesinya tentang hal itu. Ternyata larangan makan itu berguna untuk menjaga kadar gula darah kita sehingga ketika dilakukan uji laboratorium kadarnya tidak terpengaruhi oleh makanan yang kita makan. Dengan demikian hasil yang diperoleh lebih akurat. Akhirnya dapat juga penjelasan ilmiahnya.

Sore harinya saya pun makan secukupnya agar tidak terlalu lapar besoknya. Tak lupa minum air kelapa muda. Menurut orang-orang air kelapa muda cukup ampuh untuk membersihkakn bagian dalam tubuh manusia. Entah bagian mana yang dimaksud. Tapi ada sebuah mitos mengatakan ketika akan MCU sebaiknya minum air kelapa muda agar penyakit-penyakit yang ada tidak terdeteksi. Apakah ini memang mitos atau sebuah fakta realita saya belum mendapatkan penjelasannya :D. Mungkin ada yang tahu silahkan berbagi. Tapi satu fakta yang jelas, air kelapa muda memang segar :p

Keesokan harinya kembali bersama Aulia saya berangkat ke Ratulangi Medical Center. Tanpa sarapan, hanya segelas air putih yang mengisi perutku pagi itu. Yaa hitung-hitung ngisi perut agar tidak kosong. Kami melaju ke TKP dengan motor Jupiter Biru temanku ini. Ternyata di sana sudah ada beberapa peserta yang datang. Jam 8 tepat kami mulai melakukan pendaftaran. Setelah mengisi beberapa formulir Kami diberi kartu anggota atau semacamnya sebagai kartu pengenal kami jika hendak melakukan pemeriksaan atau pengobatan di klinik tersebut suatu hari nanti. Kami juga diberi nomor antrian sebagai urutan proses MCU nantinya. Seperti biasa kembali harus menunggu giliran untuk dipanggil. Untuk mengisi waktu kamipun berbagi cerita dan mengakrabkan diri satu sama lain.

Giliranku tiba. Pertama kali adalah pengambilan sampel darah. Sesuatu yang cukup mengerikan bagiku yang punya trauma dengan jarum suntik. hehehehe. Perawatnya mengambil segumpal kapas yang sudah dicelup ke dalam alkohol. Digosok-gosokkannya pada lenganku dekat lipatan siku. Dia melakukan itu sambil bertanya “Mau melamar kerja di mana dek?”. “Mau melamar jadi COOPS di INCO Bu” jawabku singkat. Tiba-tiba sebuah jarum yang terhubung ke sebuah tabung kecil ditancapkannya ke lenganku. Sakitnya hanya bisa kugambarkan dengan ringisan di wajahku. Namun sakitnya hanya sebentar saja. Setelah darahnya mengalir keluar tak lagi terasa sakit. Jarumnya pun dicabut setelah tabungnya terisi penuh. Ibu tersebut kemudian menyodorkan sebuah wadah kecil. Katanya untuk diisi dengan urin. Dia pun mempersilahkanku menuju toilet.

Setelah pengambilan sampel darah dan urin, pemeriksaan dilanjutkan ke pemeriksaan umum. Berat dan tinggi badan saya diukur. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan tekanan darah. Hal yang saya khwatirkan kembali terjadi. Perawatnya kaget melihat tekanan darah saya yang hampir 140 sampai-sampai dia mengulangi sampai beberapa kali. Cukup was was juga sebenarnya degan kondisi tekanan darah yang seperti itu. Kata orang rentan terserang penyakit tekanan darah tinggi yang bisa berujung jadi stroke atau pembuluh darah pecah… Ngerii. Pemeriksaan dilanjutkan dengan foto rontgen bagian dada.

Pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan meniup suatu alat berongga yang kemudian baru saya tahu kalo itu namanya spirometer. Ada dua tahap pemeriksaannya. Pertama meniup sekencang mungkin dan selama mungkin yang kita bisa. Kedua saya kurang ingat tapi yang kedua ini agak susah. Nafas yang dihembuskan seolah ditahan kemudian dilanjutkan kembali. Kalo g salah begitu  caranya. Beberapa kali dicoba akhirnya bisa juga. Untung perawatnya baik :P. Pemeriksaan selanjutnya yaitu pemeriksaan jantung. Ujung kaki, tangan dijepit dengan suatu alat. Ada beberapa juga yang ditempel di dada. Kayak di film-film itu. Terus ada alat lagi yang diletakkan berpindah-pindah di beberapa titik tertentu. Ternyata itu namanya EKG alias Elektrokardiogram. Fungsinya untuk memeriksa aktivitas elektrik jantung yang ujung-ujungnya tentang kesehatan jantung.

Setelah itu lanjut ke pemeriksaan Telinga Hidung Tenggorokan alias THT. Untung saja di rumah telinga sudah dibersihkan 😀 Jadi g malu-maluin. G pernah nyangka juga kalo akan ada pemeriksaan seperti ini. Setelah dicek semuanya dilanjutkan dengan tes pendengaran. Ini masih di bagian THT ya… Masa bagian gigi. 😀 Dokternya meminta untuk masuk ke sebuah bilik. Ada dua stik dengan tombol di ujungnya. Katanya nanti headphonenya dipake ya. Kalo ada suara terdengar di kanan tekan tombol di stik kanan. Begitu juga sebaliknya. Setelah memberi aba-aba headphone saya pake. Suara mulai bermunculan. Mulai yang kecil sampai kecil sekali :D. . . Bunyinya cuma tiiittttt tiit tiiitttt jadi kayak bunyi nyamuk cicak dan tikus saja 😛

Pemeriksaan berlanjut ke bagian dokter gigi. Dari pemeriksaan inilah terkuak suatu fakta bahwa gigi yang tampak utuh belum tentu selamanya utuh. Bisa jadi di bagian tengah gigi itu sudah berlubang. Jadinya kayak bola yang bulat namun isinya kosong. Itulah yang terjadi pada beberapa gigiku. “Dek gigimu banyak yang lubang. Kalo minat tambal silahkan ke klinik saya” Kata Ibu Dokter sambil menyerahkan kartu namanya. Jadi malu rasanya, masih muda tapi gigi sudah berlubang. hehehe Pemeriksaan gigi berlangsung cepat. Kalo dipikir-pikir apa hubungannya antara gigi dengan pekerjaan ya??? Ada yang tahu??

Jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Waktunya makan siang. Lagian katanya pemeriksaan mata nanti dimulai jam dua karena dokternya belum datang. Jadi kita dipersilahkan menunggu atau kembali lagi jam 2. Saya bersama Au pun keluar mencari makan. Setelah shalat kami kembali  ke klinik untuk menunggu. Namun apa yang diharapkan tidak terjadi. Sampai pukul 4 sore yang ditunggu tak kunjung datang. Sampai-sampai ada yang tidur di kursi tunggu. Akhirnya asisten dokter berinisiatif untuk memulai dengan tes kemampuan penglihatan. Tesnya pake gambar huruf yang kecil besar itu loh. Snellen Test katanya. Jam 5 sore baru dokternya muncul. Senang rasanya. Penantian akhirnya segera berakhir. Ketika giliranku tiba dokternya mengambil senter dan menyorotkannya ke mataku. “Kok matanya merah?” tanya dokternya. “Ngantuk dok, terlalu lama menunggu” Jawabku spontan. “Gubernur saya kalo ke sini kadang nunggu dek. Kamu itu bukan Gubernur kan?” katanya dengan nada yang cukup tinggi. Saya menjadi khwatir kalo dia tersinggung. Namun kemudian dia tersenyum dan berkata “santai saja dek. G apa-apa”. Lega rasanya ternyata dia tidak marah. Saya pun senyum kemudian pamit meninggalkan ruangannya.

Let’s go home dan kembali menunggu hasil pengumuman yang tak jelas kapan datangnya.

Advertisements

2 thoughts on “COOPS : Ikut Seleksi (4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s