COOPS : Lebaran di Bumi Nikel

Idul Adha

Tak seperti biasanya, tahun ini hari raya Idul Adha kurayakan jauh dari keluarga. Tahun ini terpaksa merayakannya di Soroako karena jatah cuti sudah hampir habis digunakan waktu hari raya Idul Fitri. Selama 6 bulan mahasiswa COOPS mendapat jatah cuti selama 6 hari. Jadi kita bisa minta cuti dengan memasukkan formulir permohonan cuti ke pihak HROD dengan persetujuan Manajer masing-masing. Begitulah salah satu aturan yang mengikat mahasiswa COOPS di PT INCO Tbk. Jadi, kalo suatu waktu anda atau teman ada ikut program ini maka pandai-pandailah mengatur jatah cuti yang anda miliki😀

Pagi-pagi seluruh penghuni Sumba 4 yang beragama Islam sudah bersiap-siap. Namun sampai di depan pintu kami semua melongo. Bagaimana caranya bisa sampai ke lokasi shalat Idul Adha yang jaraknya ada sekitar 2-3 km dari rumah kami. Padahal tak satupun di antara kami yang memiliki kendaraan. Driver yang lain pun tampaknya semua sibuk menjemput sana sini. Kami pun memutuskan berjalan kaki yaa sambil berharap ada yang bersedia memberikan tumpangan. Belum sampai 50 meter kami berjalan tiba-tiba sebuah mobil melaju di samping kami. Tampak saya mengenal pengemudinya. Ternyata dia adalah driver bus yang sering kami ajak cerita saat pulang kantor. Dia masih muda jadi kami santai aja mengobrol dengannya. Akhirnya kami pun jadi akrab. Namanya Dirga kalo g salah ingat. Spontan saya melambaikan tangan dan Dirga pun menghentikan mobilnya. Setelah bercerita sebentar akhirnya dia bersedia mengantar kami meski harus bolak-balik karena mobilnya tidak cukup memuat kami semua. Alhamdulillah kalo rezeki tak kan kemana kalo jodoh pasti bertemu.. Upssz..

Sampailah kita di lokasi Shalat Ied namun lagi-lagi sial. Kita lupa bawa tikar atau koran. Emang karena g punya sih.. Hehehehe. Anak COOPS g modal banget deh. Hanya ada sebuah sajadah kecil di tangan😀. Jadinya cuma mematung di lapangan sambil celngak-celinguk tengok kiri kanan mencari sesuatu ehh akhirnya dapat seseorang yang membawa spanduk digital printing itu. lumayan panjanglah. “Mas boleh ikut?” tanyaku. “boleh silahkan”jawabnya. Alhamdulillah beruntung lagi ada yang berbaik hati berbagi alas. Saya pun mencoba mengikuti ritual ibadah ini dengan khusyu’. Lantunan Takbir menggema.. Sahut menyahut Allaahu akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar Laa Ilaaha Illallaah Huwallaahu Akbar Allaahu Akbar Walillaahilham… 

Suasana begitu khidmat. Baru kali ini saya shalat Ied di lapangan. Begitu banyak orang yang hadir. Masya Allah. MC naik ke podium untuk menyampaikan beberapa informasi salah satunya jumlah hewan Qurban. Masya Allah ada sekitar 100 ekor sapi yang siap dikurbankan. Shalat Ied pun dimulai kemudian disusul dengan khutbah Idul Adha. Kisah nabi Ibrahim AS dan keluarganya yang begitu sabar dan tabah dalam ketaatan kepada Allah swt. Teringat keluarga yang ada di rumah, teringat Bapak yang sudah tiada. Air mata menetes tak tertahankan. Rindu kehadiran mereka sekaligus merenungi kesalahan-kesalahan kepada keduanya. Merenungi kasih sayang yang mereka berikan. Kasih sayang yang tak berharap akan balas budi. Kasih sayang yang penuh dengan keikhlasan. Terbayang wajah Mama yang selalu tersenyum ketika melihatnya anaknya pulang. Teringat Bapak yang selalu bekerja mencari nafkah untuk kami. Berharap bisa jadi anak yang taat kepada Allah dan orang tua seperti Ismail.

Selesai khutbah para jamaáh bersalam-salam memohon keridhaan untuk saling memaafkan. Kenal tak kenal kami saling berjabat tangan karena pada dasarnya orang Islam itu adalah saudara. Kami pun berkumpul di sekitar lapangan. Foto-foto dulu😀 dan ternyata ada undangan dari Mbak Erni salah satu karyawan di bagian  HROD. Kami pun menuju ke sana untuk silaturahim. Kebetulan rumahnya dekat lapangan tempat kami melaksanakan Shalat Idul Adha. Lumayanlah makan coto dan konro. Makanan khas Sulawesi Selatan.

Selesai dari rumah Mbak Erni kami pun pulang ke Sumba 4. Tujuan selanjutnya adalah rumah Pak Batara. Beliau ini salah satu orang penting di HROD. Kebetulan ada beberapa teman kami yang ditugaskan di HROD dan kebanyakan mereka adalah cewek yaaa begitu deh. Kami pun menuju ke rumah pak Batara yang ada di daerah Salonsa. Ada yang naik mobil ada yang naik motor ada yang memutuskan jalan kaki. Rumahnya tidak terlalu jauhlah untuk ukuran orang desa😀 Sampai di sana kami disambut Pak Batara dan keluarga. Setelah cerita-cerita makanan dan minuman pun telah terhidang. Namun kali ini menunya jauh berbeda. Makanan yang tidak pernah saya makan sebelumnya😀. Saya tidak tahu apa namanya tapi enak dimakan bareng saus cabe. Gambar di atas itu lagi di rumahnya Pak Batara. Rame deh pokoknya. Yang nonmuslim pun ikut bergembira bersama kita-kita yang sedang merayakan Hari Raya. Sepulang dari rumah pak Batara yaa tinggal di rumah aja. Tidak ada aktivitas berarti. Setelah menelpon mama di rumah saya memilih tidur siang😀.

Sore harinya sebuah motor singgah di depan rumah. Ternyata kak Azwar Tahir. Dia adalah senior di UNM sekarang mengajar di YPS Soroako dan aktivis Iqro Club Luwu Timur. Beliau membawa sebuah kantongan berisi daging sapi. Alhamdulillah saatnya masak-masak. Sungguh lebaran Idul Adha yang istimewa. Bukan di tengah keluarga tapi di tengah “keluarga” baru dengan berbagai keunikan dan keseruannya. Ada intrik perselisihan namun begtulah keluarga. Semoga bisa merekatkan hubungan kelak dan semakin akrab. Begitulah sepenggal kisah Lebaran di Bumi Nikel dengan berbagai keterbatasannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s