Cinta

Cinta

Bicara tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Cinta selalu menjadi inspirasi para pujangga, penyair, pencipta lagu, bahkan lukisan-lukisan pun banyak yang mengambil inspirasi dari kata ini. Begitu banyak karya sastra yang lahir dengan tema utama cinta. Cinta memang memiliki kekuatan melakukan itu semua. Maka kisahnya tak pernah lekang dimakan waktu. Menjadi sejarah anak cucu adam. Romeo Juliet, Rama dan Sinta, Kisah cinta di balik Taj Mahal, Yusuf dan Zulaikha dan banyak kisah cinta yang lainnya.

Kehadiran cinta yang tak pernah terasa hingga ia menjerat hati. Peristiwa ini kerap kali terjadi. Manusia tak pernah tahu lewat mana cinta ini hingga benihnya berkecambah dan tumbuh di dalam hati. Akarnya menancap tajam hingga susah untuk dicabut. Menjerat kuat hingga susah untuk lepas. Masa tumbuhnya inilah masa yang paling indah. Masa yang bertabur bunga, tak ada yang tak indah. Di masa ini kekuatan cinta akan mengambil peran besar dalam hidupmu. Ketika itu hidup dan tumbuh dan berkembang. Ia mengarahkan langkahmu dan menggerakkan jasadmu. Ia memenuhi pikiranmu hingga hampir tak ada ruang kosong yang tersisa. Apapun bisa dan sanggup engkau lakukan untuk cintamu. Bahkan ketika hal-hal itu jauh dari masuk akal. Ya begitulah cinta memiliki logikanya sendiri. Cinta yang berubah jadi laku perbuatan akan mendorong segala potensimu untuk memberikan yang terbaik kepada yang dicinta. Bahkan ketika ia meminta nyawa. Tak jarang cinta yang pergi harus diikuti dengan melayangnya nyawa. Karena begitulah cinta memberikan dorongan yang kuat kepada para pecinta.

Namun ternyata cinta itu tak selalu indah. Tak selamanya ia berjalan mulus. Selalu saja ada rintangan. Jika cinta itu adalah bunga maka akan selalu ada kumbang yang menghisap madunya. Jika ia pohon yang tinggi maka akan ada angin yang selalu meniupnya. Jika ia karang maka ada ombak yang akan menghantamnya. Maka kesabaran, ketulusan, dan pengorbanan lebih akan engkau butuhkan. Kesabaranmu, ketulusannmu, pengorbananmu akan berbanding lurus dengan besar (kemurnian) cintamu. Bersiaplah dengan resiko ini. Ketika engkau memutuskan untuk mencintai maka pastikan dirimu siap memberi, pastikan dirimu siap berkorban, yakinkan hatimu untuk tetap teguh meski diterpa sakit derita karena cinta. Semoga dengan kesiapan itu cintamu tetap kekal abadi disaat yang lain hancur, cintamu tetap kokoh meski ombak dan badai menerpa, cintamu tetap suci meski banyak kotoran yang menempelinya.

Anis Matta dalam bukunya Serial Cinta saat ia menggambarkan cinta, Beliau mengatakan

Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat.
Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang: seperti seekor harimau kenyang yang terlelap tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuasaan besar.
Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kekuatan angkara murka yang mengawal dan melindungi kebaikan.
Cinta adalah kata tanpa benda, nama untuk beragam perasaan, muara bagi ribuan makna, wakil dari kekuatan tak terkira. Ia jelas, sejelas matahari.

Semoga kita bisa memahami hakikat cinta sehingga tak menggiring ke arah jurang. Kita berharap cinta ini akan menuntun kita ke puncak bukit menyaksikan indahnya matahari yang terbit mejadi cahaya penerang dalam hidup kita. Kita tak ingin cinta yang kita jalani menjadi penderitaan yang tiada akhir. Penderitaan yang berbuah air mata duka, sakit tak berkesudahan. Cinta kata tanpa benda dengan segala misteri di dalamnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s