Antara Pemimpin dan yang Dipimpin

compact_leader_pemimpin

Hari ini banyak yang kecewa dengan negara ini. Banyak juga yang kecewa dengan para pemimpin, lembaga negara, wakil rakyat, dan hampir seluruh elemen dan level di negeri ini. Para pemimpin yang diharapkan mampu mengantar rakyat kepada kesejahteraan terbukti belum mampu mengatasi hal tersebut. Hukum yang tak lagi seimbang timbangannya. Keadilan begitu sulit ditemukan. Contoh sederhana tabrakan maut rakyat biasa dengan anak menteri ternyata hukumanya berbeda. Wakil rakyat yang tak lagi menyuarakan suara rakyat. Kekayaan alam yang tak lagi dinikmati yang empunya. Hampir semuanya dikelola oleh asing. Media yang tak lagi jujur memberikan pemberitaan. Ya semua tergantung pesanan atau yang punya media. Di tambah lagi dengan dinjak-injakkan kedaulatan negara ini oleh negara lain dengan isu penyadapan kepala negara alias pak Presiden kita. Rakyat kecewa, marah, geram, dengan semua carut marut yang terjadi di negeri ini. Masih adakah harapan bagi keberlangsungan negeri ini? Masih adakah masa depan bagi anak cucu kita?

Sebagai seorang muslim tentu kita harus selalu optimis terhadap masa depan kita atau negera kita. Seorang muslim tentu mengetahui firman Allah swt yang artinya

Dan janganlah engkau berputus asa terhadap rahmat Allah, sesungguhnya tidak berputus asa terhadap rahmat Allah kecuali orang-orang kafir (QS Yusuf: 87)

Jika kita mengamati, memahami sistem yang berjalan di negeri ini maka sebuah kesimpulan bisa ditarik kondisi negeri ini ditentukan oleh rakyatnya (dengan izin Allah tentunya). Oleh karena itu sebenarnya kondisi negeri ini tergantung dari kondisi masyarakatnya. Itulah demokrasi. Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat. Kepemimpinan yang berasal dari pilihan rakyat, dilaksanakan oleh rakyat melalui perwakilannya, dan hasilnya bisa dinikmati oleh rakyat. Oleh karena itu, kondisi negeri ini, keadaan pemimpinnya akan selalu dipengaruhi oleh kondisi rakyatnya. Dalam sebuah atsar diriwayatkan

Kamaa takuunuu, yuwalla álaikum Bagaiamana kondisi kalian demikian pula pemimpin kalian”

Jadi tak perlu heran, kecewa jika kondisi negeri ini seperti ini. Mungkin diri kita yang memang lemah. Diri kita yang tidak pantas mendapat pemimpin yang berkualitas akibat kelemahan diri kita. Kita mencela pemimpin yang korupsi namun benarkah diri kita sudah tidak korupsi juga? Jangan-jangan kadar korupsinya saja yang berbeda. Jika pemimpin kita korupsi miliaran rupiah maka mungkin kita korupsi uang belanja istri kita, uang jajan anak kita, atau korupsi uang fakir miskin (tidak mengeluarkan zakat dan sedekah) yang jumlahnya puluhan ribu hingga jutaan rupiah. Sudahkah kita bercermin dengan diri kita? Kita begitu marah mendengar berita korupsi pejabat negara namun kita begitu pemaaf dengan korupsi kecil yang kita lakukan. Kelakuannya sama saja cuma kadarnya saja yang berbeda. Mungkin jika kita yang berada di posisi mereka maka kitapun melakukan hal yang sama. Hal ini bukan bentuk pemaafan bagi kesalahan yang dilakukan oleh para pemimpin tersebut. Namun saya mengajak kita semua introspeksi diri terhadap kondisi negeri ini. Jangan sampai keterpurukan negeri ini sebagiannya karena kita sendiri. Allah swt berfirman :

Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zhalim itu menjadi penguasa bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (QS. Al An’aam: 129)

Kita yang memilih pemimpin dan Allah memberikan pemimpin sebagaimana usaha kita. Jika kita mendapat pemimpin yang zhalim bisa jadi dan sangat mungkin terjadi karena kita sendiri termasuk orang-orang yang zhalim.

Jika kita telah sepaham dengan pemikiran ini, maka saya mencoba kembali menyampaikan gagasan sederhana yang pernah diajarkan ustadz kita KH Abdullah Gymnastiar (AA Gym) dengan 3M-nya. Mari melakukan perbaikan pada bangsa ini dengan Memulai pada diri sendiri, Memulai dari hal kecil, dan Memulai dari saat ini. Jika kita sudah memiliki niat yang ikhlas dan ketulusan memperbaiki negeri ini dan mengharapkan pemimpin dari golongan orang shaleh maka mulailah memperbaiki diri sendiri. Menjadi orang yang baik akhlaknya, taat ibadahnya, ahli dalam profesinya. Tak ada yang bisa kita lakukan kecuali memperbaiki pendidikan dalam maknanya yang luas. Setiap kita harus menjadi orang yang berpendidikan dan shaleh. Orang yang memiliki idealisme dan tidak akan menjualnya dengan apapun.

Perhatikanlah pendidikan diri sendiri, pendidikan keluarga semoga dengan terbentuknya keluarga yang baik (shaleh) masyarakat yang baik tatanannya juga akan terbentuk. Masyarakat yang bisa menjadi contoh, teladan dalam mengelola masyarakatnya yang biasa kita sebut masyarakat madani. Hal ini bukanlah sesuatu yang mustahil jika kumpulan keluarga yang membentuknya adalah keluarga yang shaleh.

Jika pemahaman ini dapat kita pahami secara kolektif sebagai sebuah negara maka tidak ada kesempatan bagi para pemimpin yang zhalim dan tak amanah itu untuk menduduki posisi penting di negara ini. Jika masyaraktnya shaleh tentu mereka tak ingin dipimpin oleh orang yang zhalim, toh orang zhalim saja tidak mau dipimpin oleh orang yang zhalim. Sistem pemerintahan negara ini sangat mendukung karena pemimpin termasuk wakil rakyat dipilih oleh rakyat. Maka tak ada alasan bagi kita yang menginginkan perbaikan bangsa ini untuk tidak memperbaiki diri dan mengajak orang lain kepada kebaikan. Memberikan pendidikan yang baik dan benar kepada keluarga dan masyarakat. Dengan demikian mereka yang berada di 3 sektor (pemerintahan, swasta (pemilik modal), dan masyarakat) adalah mereka orang-orang yang shaleh. Orang-orang yang shaleh secara spiritual dan profesional dalam profesinya. Jika ia guru maka ia mendidik murid dengan sebaik-baiknya. Jika dia dokter maka ia melayani pasien dengan sebaik-baiknya. Jika ia teknokrat maka ia membangun dengan sebaik-baiknya. Jika dia hakim maka dia memutus perkara dengan seadil-adilnya. Jika semua memberikan yang terbaik bagi negara ini maka negara ini akan memberikan yang terbaik bagi warganya. Allah berfirman

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS Ar-Ra’d :11)

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. AL A’raf :96)

Semoga apa yang kita cita-citakan, terbentuknya pemimpin dan negara yang mengantarkan rakyatnya kepada kemakmuran dan keadilan dapat terwujud. Memulai dari diri, keluarga dan masyarakat dengan pendidikan yang baik kita berharap semua itu bisa terwujud. Semoga Allah senantiasa memberi kekuatan untuk meneguhkan hati kita di jalan-Nya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s