Maratib Amal dan Mihwar Dakwah

Setiap marhalah ada tantangannya dan setiap marhalah ada rijal (orang)-nya Begitulah sebuah ungkapan yang menggambarkan kepada kita bahwa dakwah itu sesuatu yang memiliki sisi fleksibilitas dalam perjalanannya. Namun perlu dipahami juga bahwa dakwah itu memiliki sisi yang kaku yang tidak boleh berubah sepanjang masa. Pembagian fase dakwah ke dalam marhalah-marhalah adalah bagian dari fleksibilitas dakwah untuk memudahkan para aktivisnya dalam mengemban amanah dakwah. Maka pembagian marhalah atau tahapan dakwah ini tidak ditemukan nash yang tetap tentang pembagiannya. Ini bagian dari ijtihad para mujtahid dalam menentukannya sesuai dengan pemahaman dan kapasitas masing-masing. Hasan AL Banna membagi tahapan dakwahnya dengan istilah Maratibul amal. Maratibul amal terdiri dari 7 tahap yaitu :

  1. Perbaikan diri sendiri (bina’usy syahsiyah islamiyah), sehingga ia menjadi orang yang sesuai dengan muwashafatnya. Perbaikan diri meliputi aspek berikut :
    • Aqidah yang selamat (salimul aqidah),
    • Ibadah yang shahih (shohihul ibadah),
    • Akhlak yang kokoh (matinul khuluq),
    • Fisik yang kuat(qowiyyul jismi),
    • Wawasan yang luas (mutsafaqul fikri),
    • Mandiri dalam usaha/berpenghasilan (Qodirun Alal Kasbi),
    • Memiliki kesungguhan diri (Mujahadatul Linafsihi),
    • Pandai mengelola waktunya (Harishun Ala Waqtihi),
    • Mampu mengorganisasi urusannya (Munazhzhamun fi Syuunihi), dan
    • Bermanfaat bagi orang lain (Nafi’un Lighoirihi)
  2. Pembentukan keluarga muslim (takwin baitul muslim), yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam.
  3. Bimbingan masyarakat, yakni dengan menyebarkan dakwah, memerangi perilaku yang kotor dan munkar, mendukung perilaku utama, amar ma’ruf, bersegera mengerjakan kebaikan, menggiring opini umum untuk memahami fikrah islamiyah dan mencelup praktek kehidupan dengannya terus-menerus. Itu semua adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap akh sebagai pribadi, juga kewajiban bagi jamaah sebagai institusi yang dinamis.
  4. Pembebasan tanah air dari setiap penguasa asing -non-Islam- baik secara politik, ekonomi, maupun moral.
  5. Memperbaiki keadaan pemerintah (islahul hukumah), sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik. Dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai khadimul ummat (pelayan umat) dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan mereka. Pemerintah Islam adalah pemerintah yang anggotanya terdiri dari kaum musliminyang menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, tidak terang-terangan dengan kemaksiatan, dan konsistenmenerapkan hukum-hukum serta ajaran Islam. Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang non-Islam -jika dalam keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis. Tidak terlalu penting mengenai bentuk dan nama jabatan itu, selama sesuai dengan kaidah umum dalam sistem undang-undang Islam, maka boleh. Beberapa sifat yang dibutuhkan antara lain: rasa tanggung jawab, kasih sayang kepada rakyat, adil terhadap semua orang, tidak tamak terhadap kekayaan negara, dan ekonomis dalam penggunaannya. Beberapa kewajiban yang harus ditunaikan antara lain: menjaga keamanan, menerapkan undang-undang, menyebarkan nilai-nilai ajaran, mempersiapkan kekuatan, menjaga kesehatan, melindungi keamanan umum, mengembangkan investasi dan menjaga kekayaan, mengokohkan mentalitas, serta menyebarkan dakwah. Beberapa haknya -tentu, jika telah ditunaikan kewajibannya- antara lain loyalitas dan ketaatan, serta pertolongan terhadap jiwa dan hartanya. Apabila ia mengabaikan kewajibannya, maka berhak atasnya nasehat dan bimbingan, lalu -jika tidak ada perubahan- bisa diterapkan pemecatan dan pengusiran. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.
  6. Usaha mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini (al kayyan ad dauli) untuk kemaslahatan umat Islam. Hal demikian itu dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya, sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang di impi-impikan bersama.
  7. Penegakan kepemimpinan dunia (ustadziyatul ‘alam) dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. “Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah belaka.” (AlBaqarah:193) “Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.” (At-Taubah: 32) Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaahini. Sungguh, betapa besarnya tanggung jawab ini dan betapa agungnya tujuan ini. Orang melihatnya sebagai khayalan, sedangkan seorang muslim melihatnya sebagai kenyataan. Kita tidak pernah putus asa meraihnya dan -bersama Allah- kita memiliki cita-cita luhur. “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan orang tidak Mengetahuinya ” (Yusuf: 21)

Ketujuh tertib amal ini jika dibagi dalam lima mihwar (Tanzhim, sya’bi, mihani, muassasi, daulih) dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Marhalah Tanzhim; pada marhalah ini fokus pembinaan ada pada pembinaan diri dan keluarga. Metode pembinaan dan perekrutan kepada hubungan individu-individu.
  2. Marhalah Sya’bi; pada marhalah ini fokus aktivitas yaitu pelayanan masyarakat. Menyebarkan islam kepada masyarakat dengan metode yang lebih masif. Marhalah ini ditandai dengan adanya organisasi sebagai perwajahan dakwah.
  3. Marhalah Mihani; marhalah ini ditandai dengan persiapan profesional-profesional dalam berbagai bidang kehidupan seperti sains teknologi, pendidikan, sosial budaya, keamanan, ekonomi, dan sebagainya. Memunculkan tokoh-tokoh yang kredibel di bidangnya masing-masing. Pada marhalah ini kita mempersiapkan tokoh yang akan mengisi berbagai kehidupan manusia dan menjadi rujukan terhadap berbagai permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara.
  4. Marhalah Muassasi; marhalah ini ditandai dengan mulainya dakwah terlibat dalam kegiatan politik. Dakwah di ranah politik adalah suatu keniscayaan karena lewat politiklah legalitas kekuasaan bisa diraih. Islam tanpa kekuasaan seperti tubuh tanpa kepala. Kurang lebih begitu yang pernah dikatakan seorang ulama.
  5. Marhalah Daulih; marhalah ini ditandai dengan peran aktif dalam mengelola negara. Beberapa pos-pos penting dalam pemerintahan dikelola oleh para aktivis dakwah. Jadi di mihwar ini dilakukan penetrasi ke dalam lembaga-lembaga negara. Logikanya, bagaimana mau memperbaiki negara dan mempersiapkannya menjadi pemimpin dunia jika tidak dikelola dengan benar.

Setiap mihwar memiliki karakteristik dan metode dakwahnya masing-masing. Selain itu, setiap mihwar menuntut kompetensi yang lebih setiap kali ia berpindah. Hal ini karena perpindahan mihwar dakwah bukan berarti meninggalkan aktivitas di mihwar sebelumnya. Melainkan bertambahnya amanah dakwah dan bertambahnya wilayah garapan serta bertambahnya kompetensi yang dibutuhkan dan harus dimiliki oleh para aktivis dakwah. Maka tak jarang terjadi perubahan mihwar dakwah menyebabkan beberapa kader yang tidak mampu beradaptasi dengan mihwar baru mengalami kefuturan bahkan insilak (keluar dari jama’ah). Jika diilustrasikan maka seperti inilah keempat mihwar tersebut.

Capture

Demikianlah beberapa penjelasan tentang maratibul amal dan mihwar dakwah. Semoga bermanfaat 🙂 sumber : taufiqazzam.blogspot.com; terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Advertisements

One thought on “Maratib Amal dan Mihwar Dakwah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s