Politik dan Kesantunan

Politik dan kesantunanDunia politik memang dunia yang kejam. Tentu saja karena politik identik dengan strategi dan tipu muslihat. Politik adalah ranah yang berbahaya bagi mereka yang tidak siap mental. Kebohongan, pengkhianatan adalah sesuatu yang harus siap untuk diterima. Namun bukan berarti bahwa politik itu kotor karena politik adalah bagian dari kehidupan manusia yang tak boleh hilang. Mengapa demikian? Politik adalah ranah yang akan mengatur kepentingan dan kehidupan kita sebagai makhluk sosial. Sebagai kumpulan manusia kita membutuhkan keteraturan dan pengurusan kebutuhan kita sebagai sebuah masyarakat.  Di sinilah politik mengambil peran ini untuk kebaikan manusia.

Hari ini pergulatan politik tidak hanya terjadi di kalangan elit saja. Politik sudah menyentuh berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari yang berpendidikan, konglomerat, karywan, buruh, sampai pengangguran pun kini bergelut dengan kehidupan politik praktis. Dinamika politik semakin hangat terutama menjelang pesta demokrasi dimulai. Masing-masing mengelu-elukan tokoh yang mereka dukung dan sebagian lagi ada yang asyik menyerang lawan politik. Kemunculan akun-akun anonim yang mengungkapkan berbagai pendapat menjadi trend baru dalam kehidupan dunia media sosial. Media mainstream (cetak dan digital) tak lagi menjadi rujukan satu-satunya bahkan cenderung ditinggalkan. Terutama bagi media yang memunculkan keberpihakan politik mereka.

Di satu sisi dinamika politik ini menjadi sebuah prestasi dan kemajuan demokrasi Indonesia. Di luar dari angka golput yang masih cukup tinggi namun kesadaran politik sebagian besar masyarakat pantas untuk diapresiasi. Dinamika politik menjadi lebih hidup dan terasa dalam kehidupan masyarakat. Tentu diharapkan agar masyarakat kita bisa lebih melek dalam berpolitik. Sebuah kutipan dari penyair Jerman Bertolt Brecht

“Buta yang terburuk adalah BUTA POLITIK. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, dll semua tergantung pada KEPUTUSAN POLITIK.

Orang yang BUTA POLITIK begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si Dungu ini tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasinal.”

Namun di sisi lain tak jarang dinamika politik malah menimbulkan permusuhan.  Berbeda pilihan politik seorang teman  jadi tak saling sapa, tetangga tak lagi berbalas senyum, dan semoga saja tak terjadi keluarga bubar karena perbedaan pilihan politik. Perdebatan yang harusnya pada tingkat ide berubah menjadi serangan-serangan personal. Padahal sebagai manusia tentu kita memiliki pertimbangan masing-masing dalam menentukan pilihan. Kita punya akal sehat dan hati untuk mengolah informasi dan memberikan pertimbangan. Hasil dari proses inilah yang seharusnya menjadi bahan diskusi sehingga kita benar-benar bisa menentukan pilihan yang tepat bagi negara kita.

Setiap gagasan yang kita miliki hendaknya dikomunikasikan dengan bahasa yang sopan dan santun. Tentu ini bagian dari budaya kita sebagai bangsa Indonesia. Bangsa yang menjunjung tinggi adat ketimuran. Dengan demikian, pemilu yang damai dan bermartabat dapat tercipta di negeri kita. Mari kita tunjukkan kepada dunia jika demokrasi kita patut menjadi contoh bagi negara lain. Mau tidak mau salah satu di antara tokoh-tokoh itu akan menjadi pemimpin kita. Kita harus menjadi manusia dengan dada yang lapang untuk menerima perbedaan dan bekerja bersama mereka yang berbeda dengan pilihan kita. Kita adalah satu bangsa, semangat Sumpah Pemuda harus senantiasa kita ingat. Persatuan bangsa adalah utama karena dengannyalah kita merdeka. Pemilihan umum hanyalah satu dari sekian banyak tahap yang akan dilalui negara ini. Selesai pemilu kita mesti bersatu padu mengusung program-program pemerintah yang Pro-Rakyat. Kita harus jujur pada diri sendiri untuk mengatakan yang baik itu baik meski dari orang yang dulunya menjadi rival kita. Namun bagaimana hal itu bisa terwujud jika silaturahim telah terputus sebelum pemilu? Tali yang seharusnya sudah bisa digunakan harus menunggu untuk disambung. Lidi yang harusnya telah tersimpul masih berserakan di mana-mana. Dan tentu saja hati yang tersakiti harus menunggu untuk membuka diri.  Semua karena kita yang lalai dari menjaga kesantunan dalam berpolitik.

Oleh karena itu, sangat penting untuk membudayakan politik yang santun dan bermartabat. Dengan budaya seperti ini diharapkan persatuan dan kesatuan negara tetap terjaga sehingga menjadi faktor pendorong akselerasi proses pembangunan. Tak bisa kita pungkiri pemimpin yang baik akan lahir dari masyarakat yang baik.

Tulisan ini spesial buat saya yang mungkin selama ini lalai dalam menjaga kesantunan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s