Jomblo Ngenes

Stop Bully

Beberapa waktu yang lalu istilah Jones sempat menghiasi dunia permedia sosialan. Setelah saya cari-cari ternyata Jones itu singkatan dari Jomblo Ngenes. Hehehe Kasian banget si Jones sudah Jomblo, Ngenes lagi. Tapi ya begitulah kondisinya. Semakin hari status jomblo semakin mendapati banyak masalah. Bukan hanya menjadi masalah pribadi tetapi seolah-olah saya yang jomblo orang lain yang susah. Kompor-kompor bertebaran di mana-mana yang siap memanaskan panci para jomblo.

Fenomena ini sadar atau tidak sadar mulai mengusik kehidupan beberapa orang. Kebiasaan teman-temannya bertanya “kapan nikah?” dan pertanyaan sejenis sudah menjadi sesuatu yang mengganggu. Mungkin maksud temannya baik untuk memotivasi menyempurnakan setengah agamanya, namun kadang cara yang digunakan tidak sesuai dengan apa yang para jombloers harapakan. Utamanya ketika media sosial sudah menjadi dunia baru bagi kehidupan manusia abad 21.

Aktivitas kita di dunia sosial yang hampir tak terkontrol tanpa kita sadari telah melanggar privacy orang lain. Contohnya seseorang ngopomporin para jomblo. Entah secara langsung atau melalui postingan-postingan yang mengarah ke arah “segeralah menikah”. Mulai dari postingan ke wall, tag-tag nama hingga ke mention-mention. Kemudian diikuti dengan komentar dari yang lain sehingga panjanglah komentar dari status tersebut. Apakah kita tidak berpikir jika ada keluarga atau kerabat ataukah orang lain yang memiliki hubungan dengan si Jones akan membaca postingan tersebut. Apakah kita tidak merasa bersalah jika harga diri dari si Jomblo ini jatuh di hadapan orang lain yang tidak kita kenal??

Banyak orang memotivasi jomblo untuk menikah namun tidak disertai dengan solusi atas kendala yang dihadapi si Jomblo. Ujung-ujungnya kalimat motivasi itu terdengar seperti bully-an. Bahkan kadang terkesan sang Motivator ini menilai bahwa si Jomblo tak punya usaha untuk menikah. Alasannya sudah bertahun-tahun ataukah usia si Jomblo sudah terhitung “tua” namun belum juga menikah. Di sini saya ingin berkata seperti ini. Jodoh adalah urusan Tuhan. Kapan mereka bertemu itu urusan Tuhan. Bukan berarti pula si Jomblo tidak punya usaha. Mungkin kita melihatnya dia diam-diam saja tapi di sisi yang tak nampak dari pandangan kita dia berusaha sekuat tenaga untuk mengakhiri masa jomblonya. Seberapa kuat doanya. Seberapa kuat dia mengumpulkan maharnya. Seberapa kuat dia melakukan negosiasi dengan pihak-pihak terkait. Tentu hal-hal ini bagi sebagian orang adalah urusan pribadi yang tidak harus diceritakan kepada semua orang.

Bagi para motivator banyak cara membantu para jomblo dan jones yang lebih baik. Saling mem-bully itu tidak baik. Salah-salah rasa hormat dan silaturahim bisa terputus. Mari saling membantu dengan cara yang baik. Bukankah agama memerintahkan kita untuk nasehat-menasehati dalam kebenaran dan kesabaran????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s