Kemana Kita Menuju?

Jalan kehidupan

Kita semua terlahir ke dunia tanpa membawa apa-apa. Lahir sebagai manusia yang bersih tanpa hasrat, ambisi, dan sebagainya. Kita hanya tahu cara menangis. Kita lapar maka kita menangis. Buang air pun kita menangis untuk memberi sinyal kepada ibu atau orang yang ada di sekitar kita. Kemudian kita tumbuh secara fisik, mental, dan pemikiran. Badan kita bertambah besar. Mental kita semakin dewasa. Pemikiran kita semakin tajam. Hati dan pikiran kita terus kita kembangkan mengikuti pertumbuhan fisik yang juga semakin hari semakin berubah.

Di tengah perjalanan hidup ini, manusia menempuh jalannya masing-masing. Namun kemudian pertanyaannya, “ke mana kita menuju?”. Apakah kita sudah menetapkan tujuan yang benar dari kisah perjalanan hidup kita? Kemudian apakah jalan hidup yang kita pilih akan mengantarkan kepada tujuan yang telah kita tetapkan? Tujuan hidup adalah sesuatu yang given dari Tuhan. Manusia tidak punya pilihan dalam menentukan tujuan hidupnya. Namun manusia kemudian diberi pilihan kendaraan apa yang dia gunakan untuk menempuh jalan hidup menuju tujuannya. Tuhan pun telah menetapkan rambu di setiap persimpangan jalan yang akan kita lewati. Oleh karena itu, kita menemukan fakta bahwa Tuhan memberikan kebebasan kepada manusia untuk beriman kepada Tuhan yang benar atau tidak. Bahkan orang-orang yang tidak percaya akan Tuhan pun tetap mendapatkan hak-hak kemanusiaannya dari Tuhan seperti rezeki, kesehatan, maupun batasan umur hidup di dunia.

Pernah suatu waktu Rasulullah saw menjelaskan tentang jalan hidup manusia

. Beliau saw menggambarkannya seperti garis lurus yang memiliki banyak simpangan. Layaknya tulang pada daun. Di setiap persimpangan ada syaithan yang menjaga untuk mengajak manusia menyimpang dari jalan yang lurus itu (jalan yang benar menuju ke tujuan yang benar). Ada persimpangan yang mengajak kepada harta, keluarga, jabatan, perniagaan. Ada juga yang mengajak kepada penyakit hati, dengki, munafik, hasad, iri, dan sebagainya. Di persimpangan yang lain ada ujub, sombong, sum’ah, riya akan kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan. Setiap persimpangan mengajak kita kepada jalan yang jauh dari tujuan dengan cara yang kasar sampai yang paling halus. Bagi mereka yang menempuh jalan yang benar, maka segala perhiasan dunia yang ditawarkan oleh setiap persimpangan menjadi modal dan bekal mereka untuk melanjutkan perjalanannya. Hartanya digunakan di jalan kebaikan, membantu yang miskin, membangun hal-hal yang bermanfaat. Keluarganya menjadi penyemangat untuk tetap istiqamah bersama di jalan Tuhan. Bukan malah menjauhkannya dari Tuhan. Saling mendukung dan saling mengingatkan dalam kebaikan. Begitu seterusnya, sehingga seluruh potensi yang dimilikinya dipersembahkan di jalan yang telah digariskan Tuhan.

Kemudian kita berhenti sejenak di jalan yang tengah kita lalui ini. Kita merenungkan apa yang telah kita lalui dan apa yang telah kita lakukan. Kita merenungkan selama ini kita mau kemana? Apakah benar tujuan hidup kita sudah sesuai dengan keinginan Tuhan yang menciptakan kita. Jika belum rendahkan hati dan diri kita untuk menerima ketetapan yang sudah ditentukan buat kita. Tak ada pilihan bagi yang menginginkan keselamatan selain menuju ke arah yang telah digariskan Tuhan. Bagi yang telah memiliki tujuan yang benar, maka mari kita merenung juga, benarkah jalan yang kita lalui? Apakah kita tidak terperdaya oleh jebakan-jebakan yang menipu. Sudahkah kita jauh dari jalan riya dan berjalan di atas jalan ikhlas? Sudahkah kita menghindari jalan kesombongan dan menuju jalan kerendahan hati (tawadhu)? Bagi yang merasa sudah terlalu jauh tersesat dalam labirin selalu ada jalan kembali (taubat) ke jalan yang benar. Jika ada yang ditunggu Tuhan dari dirimu maka itu adalah taubatmu. Bagi yang merasa diri terlalu hina dengan segala keburukannya selama ini maka bergembiralah dengan datangnya ampunan Tuhanmu. Bersegeralah menyambutnya, berjalanlah lebih cepat ke arahNya, maka akan kau temukan Dia Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. Ini adalah nasehat buatku, seorang manusia yang lemah. Manusia yang tak jarang kehilangan arah. Allaahumma muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika. Allaahumma musharrifal quluub sharrif qalbii ‘alaa thaa’atika.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s