Allah Tahu Kita Sibuk

oleh : Aba Abdir Rahman

Sebagai seorang da’i, atau sebagai seorang anggota lembaga yang menamakan dirinya sebagai lembaga da’wah, sudah seharusnyalah ia mempunyai hubungan yang kokoh kuat (quwwatush-shilah) dengan Allah swt.

Ada banyak sarana yang bisa kita jadikan sebagai opsi atau pilihan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas hubungan tersebut.

Di dalam al mustakhlash fi tazkiyatil anfus Sa’id Hawa rahimahullah menyebutkan 13 sarana yang bisa kita jadikan sebagai wasilah untuk mendekatkan diri kita kepada Allah swt. Mulai dari shalat, zakat-infaq-sedekah, puasa, haji, tilawatul qur’an, dzikrullah, tafakkur alam dan seterusnya.

Meskipun demikian, kita masih sering merasakan adanya kekeringan ruhani, karena kita memang sangat jarang mengalirinya dengan siraman-siraman ruhani yang berupa sarana-sarana tersebut. Atau istilah accu-nya, kita jarang ngeces accu dan baterai ruhani yang kita miliki dengan sarana-sarana Islamiyyah itu tadi.

Alasan yang sering kita kemukakan selalu sama dan klasik: sibuk dan repot alias susah mengatur dan mendapatkan waktu senggang untuk menyiram dan mengecesnya.

Kadangkala, kalau kita sedang berkumpul dengan sesama kader, kita ingat bahwa ruhani kita sedang sangat kekeringan. Namun begitu keluar dari majlis ikhwah, kita kembali lagi menjadi manusia-manusia yang “sibuk”.

Namun, kita perlu mengingat bahwa kesibukan kita tidak berarti meninggalkan langkah-langkah untuk melakukan siraman-siraman dan pengecesan ruhani kita. Continue reading “Allah Tahu Kita Sibuk”

Selamat Natal, Haramkah?

Kultwit by Salim A. Fillah @salimafillah

Kontroversi ucapan selamat natal kepada Kaum Nasrani selama ini telah mengemuka, dan terkesan tidak pernah rampung dibicarakan. Ustadz SalimA Fillah melalui Kultwitnya siang ini (24 Desember 2011) menyajikan pembahasannya secara seimbang dengan mengetengahkan beberapa pendapat. Silakan simak kultwit #Natal berikut, atau langsung ke TL @salimafillah:

Ada kesalahfahaman. Di teks Fatwa MUI; yang haram adalah PERAYAAN NATAL BERSAMA, bukan ucapan selamat; http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html

Sayang sekali; banyak yang tak membaca teks Fatwa MUI; lalu mengharamkan atas nama mereka apa yang tiada di teks; atau terlanjur memaki..

1. #Natal ini, terkenang ujaran Allahu yarham KH Abdullah Wasi’an; “Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak.”

Continue reading “Selamat Natal, Haramkah?”

Halaqah Tarbawi

Halaqah adalah salah satu sarana Tarbiyah. Halaqah ini adalah sebuah kelompok kecil yang beranggotakan seorang naqib dan beberapa a’dha, atau mad’u, atau bisa disebut dengan nama binaan. Halaqah biasa juga disebut dengan usrah (keluarga). Penamaan-penamaan ini sebenarnya adalah cerminan dari fungsi halaqah dalam membina, membentuk para anggotanya. Halaqah ini dilakukan setiap pekan dan memiliki agenda-agenda yang tersusun sehingga apa yang diharapkan dari pelaksanaannya bisa tercapai.

Kelompok kecil ini disebut halaqah karena orang-orangnya membentuk lingkaran ketika bertemu setiap pekannya. Jadi pada halaqah ini tak ada perbedaan posisi antara naqib dengan mad’u-nya. Berbeda dengan majelis ta’lim yang biasanya ustadz berada di depan sendiri dan jamaahnya berada pada barisan tersendiri. Namun pada halaqah posisi naqib itu membaur dengan mad’u-nya.

Kelompok kecil ini disebut usrah karena salah satu fungsi naqib yaitu fungsi orang tua. Naqib menjadi orang tua bagi mad’u-nya. Itulah salah satu keistimewaan kelompok ini karena ia dibentuk untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan di antara sesamanya. Memberikan nasehat, solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh setiap pribadi di dalam usrah tersebut. Berbagi kabar gembira dan kabar duka serta saling memotivasi agar senantiasa komitmen dalam berislam. Continue reading “Halaqah Tarbawi”

Maratib Amal dan Mihwar Dakwah

Setiap marhalah ada tantangannya dan setiap marhalah ada rijal (orang)-nya Begitulah sebuah ungkapan yang menggambarkan kepada kita bahwa dakwah itu sesuatu yang memiliki sisi fleksibilitas dalam perjalanannya. Namun perlu dipahami juga bahwa dakwah itu memiliki sisi yang kaku yang tidak boleh berubah sepanjang masa. Pembagian fase dakwah ke dalam marhalah-marhalah adalah bagian dari fleksibilitas dakwah untuk memudahkan para aktivisnya dalam mengemban amanah dakwah. Maka pembagian marhalah atau tahapan dakwah ini tidak ditemukan nash yang tetap tentang pembagiannya. Ini bagian dari ijtihad para mujtahid dalam menentukannya sesuai dengan pemahaman dan kapasitas masing-masing. Hasan AL Banna membagi tahapan dakwahnya dengan istilah Maratibul amal. Maratibul amal terdiri dari 7 tahap yaitu :

  1. Perbaikan diri sendiri (bina’usy syahsiyah islamiyah), sehingga ia menjadi orang yang sesuai dengan muwashafatnya. Perbaikan diri meliputi aspek berikut :
    • Aqidah yang selamat (salimul aqidah),
    • Ibadah yang shahih (shohihul ibadah),
    • Akhlak yang kokoh (matinul khuluq),
    • Fisik yang kuat(qowiyyul jismi),
    • Wawasan yang luas (mutsafaqul fikri),
    • Mandiri dalam usaha/berpenghasilan (Qodirun Alal Kasbi),
    • Memiliki kesungguhan diri (Mujahadatul Linafsihi),
    • Pandai mengelola waktunya (Harishun Ala Waqtihi),
    • Mampu mengorganisasi urusannya (Munazhzhamun fi Syuunihi), dan
    • Bermanfaat bagi orang lain (Nafi’un Lighoirihi)
  2. Pembentukan keluarga muslim (takwin baitul muslim), yaitu dengan mengkondisikan keluarga agar menghargai fikrahnya, menjaga etika Islam dalam setiap aktivitas kehidupan rumah tangganya, memilih istri yang baik dan menjelaskan kepadanya hak dan kewajibannya, mendidik anak-anak dan pembantunya dengan didikan yang baik, serta membimbing mereka dengan prinsip-prinsip Islam.
  3. Bimbingan masyarakat, yakni dengan menyebarkan dakwah, memerangi perilaku yang kotor dan munkar, mendukung perilaku utama, amar ma’ruf, bersegera mengerjakan kebaikan, menggiring opini umum untuk memahami fikrah islamiyah dan mencelup praktek kehidupan dengannya terus-menerus. Itu semua adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap akh sebagai pribadi, juga kewajiban bagi jamaah sebagai institusi yang dinamis.
  4. Pembebasan tanah air dari setiap penguasa asing -non-Islam- baik secara politik, ekonomi, maupun moral.
  5. Memperbaiki keadaan pemerintah (islahul hukumah), sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik. Dengan begitu ia dapat memainkan perannya sebagai khadimul ummat (pelayan umat) dan pekerja yang bekerja demi kemaslahatan mereka. Pemerintah Islam adalah pemerintah yang anggotanya terdiri dari kaum musliminyang menunaikan kewajiban-kewajiban Islam, tidak terang-terangan dengan kemaksiatan, dan konsistenmenerapkan hukum-hukum serta ajaran Islam. Tidaklah mengapa menggunakan orang-orang non-Islam -jika dalam keadaan darurat- asalkan bukan untuk posisi jabatan strategis. Tidak terlalu penting mengenai bentuk dan nama jabatan itu, selama sesuai dengan kaidah umum dalam sistem undang-undang Islam, maka boleh. Beberapa sifat yang dibutuhkan antara lain: rasa tanggung jawab, kasih sayang kepada rakyat, adil terhadap semua orang, tidak tamak terhadap kekayaan negara, dan ekonomis dalam penggunaannya. Beberapa kewajiban yang harus ditunaikan antara lain: menjaga keamanan, menerapkan undang-undang, menyebarkan nilai-nilai ajaran, mempersiapkan kekuatan, menjaga kesehatan, melindungi keamanan umum, mengembangkan investasi dan menjaga kekayaan, mengokohkan mentalitas, serta menyebarkan dakwah. Beberapa haknya -tentu, jika telah ditunaikan kewajibannya- antara lain loyalitas dan ketaatan, serta pertolongan terhadap jiwa dan hartanya. Apabila ia mengabaikan kewajibannya, maka berhak atasnya nasehat dan bimbingan, lalu -jika tidak ada perubahan- bisa diterapkan pemecatan dan pengusiran. Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.
  6. Usaha mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini (al kayyan ad dauli) untuk kemaslahatan umat Islam. Hal demikian itu dilakukan dengan cara membebaskan seluruh negeri, membangun kejayaannya, mendekatkan peradabannya, dan menyatukan kata-katanya, sehingga dapat mengembalikan tegaknya kekuasan khilafah yang telah hilang dan terwujudnya persatuan yang di impi-impikan bersama.
  7. Penegakan kepemimpinan dunia (ustadziyatul ‘alam) dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri. “Sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah belaka.” (AlBaqarah:193) “Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.” (At-Taubah: 32) Empat yang terakhir ini wajib ditegakkan oleh jamaah dan oleh setiap akh sebagai anggota dalam jamaahini. Sungguh, betapa besarnya tanggung jawab ini dan betapa agungnya tujuan ini. Orang melihatnya sebagai khayalan, sedangkan seorang muslim melihatnya sebagai kenyataan. Kita tidak pernah putus asa meraihnya dan -bersama Allah- kita memiliki cita-cita luhur. “Dan Allah berkuasa terhadap urusan-Nya, tetapi kebanyakan orang tidak Mengetahuinya ” (Yusuf: 21)

Ketujuh tertib amal ini jika dibagi dalam lima mihwar (Tanzhim, sya’bi, mihani, muassasi, daulih) dapat digolongkan sebagai berikut :

  1. Marhalah Tanzhim; pada marhalah ini fokus pembinaan ada pada pembinaan diri dan keluarga. Metode pembinaan dan perekrutan kepada hubungan individu-individu.
  2. Marhalah Sya’bi; pada marhalah ini fokus aktivitas yaitu pelayanan masyarakat. Menyebarkan islam kepada masyarakat dengan metode yang lebih masif. Marhalah ini ditandai dengan adanya organisasi sebagai perwajahan dakwah.
  3. Marhalah Mihani; marhalah ini ditandai dengan persiapan profesional-profesional dalam berbagai bidang kehidupan seperti sains teknologi, pendidikan, sosial budaya, keamanan, ekonomi, dan sebagainya. Memunculkan tokoh-tokoh yang kredibel di bidangnya masing-masing. Pada marhalah ini kita mempersiapkan tokoh yang akan mengisi berbagai kehidupan manusia dan menjadi rujukan terhadap berbagai permasalahan kehidupan berbangsa dan bernegara.
  4. Marhalah Muassasi; marhalah ini ditandai dengan mulainya dakwah terlibat dalam kegiatan politik. Dakwah di ranah politik adalah suatu keniscayaan karena lewat politiklah legalitas kekuasaan bisa diraih. Islam tanpa kekuasaan seperti tubuh tanpa kepala. Kurang lebih begitu yang pernah dikatakan seorang ulama.
  5. Marhalah Daulih; marhalah ini ditandai dengan peran aktif dalam mengelola negara. Beberapa pos-pos penting dalam pemerintahan dikelola oleh para aktivis dakwah. Jadi di mihwar ini dilakukan penetrasi ke dalam lembaga-lembaga negara. Logikanya, bagaimana mau memperbaiki negara dan mempersiapkannya menjadi pemimpin dunia jika tidak dikelola dengan benar.

Setiap mihwar memiliki karakteristik dan metode dakwahnya masing-masing. Selain itu, setiap mihwar menuntut kompetensi yang lebih setiap kali ia berpindah. Hal ini karena perpindahan mihwar dakwah bukan berarti meninggalkan aktivitas di mihwar sebelumnya. Melainkan bertambahnya amanah dakwah dan bertambahnya wilayah garapan serta bertambahnya kompetensi yang dibutuhkan dan harus dimiliki oleh para aktivis dakwah. Maka tak jarang terjadi perubahan mihwar dakwah menyebabkan beberapa kader yang tidak mampu beradaptasi dengan mihwar baru mengalami kefuturan bahkan insilak (keluar dari jama’ah). Jika diilustrasikan maka seperti inilah keempat mihwar tersebut.

Capture

Demikianlah beberapa penjelasan tentang maratibul amal dan mihwar dakwah. Semoga bermanfaat 🙂 sumber : taufiqazzam.blogspot.com; terpaksabikinwebsite.wordpress.com

Pertumbuhan Ilmu Ushul Fiqh

Muhammad Abu Zahrah

Oleh : Muhammad Abu Zahrah

Ilmu ushul fiqh tumbuh bersama-sama dengan ilmu fiqh, meskipun ilmu fiqh dibukukan lebih dahulu dari pada ilmu ushul fiqh. Karena dengan tumbuhnya ilmu fiqh, tentu ada metode yang dipakai untuk menggali ilmu tersebut. Dan metode itu tidak lain adalah ilmu Ushul Fiqh.

Jika penggalian hukum fiqh setelah wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah pada masa shahabat, maka para fuqaha’ pada masa itu seperti Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib dan Umar ibn Khattab tidak mungkin menetapkan hukum tanpa adanya dasar dan batasan. Bila seseorang mendengar bahwa Ali bin Abi Thalib menetapkan sanksi (pidana) bagi orang yang meminum minuman keras, dan orang yang menuduh orang lain berbuat zina tanpa ada bukti, tentu beliau melalui prosedur penetapan hukum yang legal, atau menetapkan hukum berdasarkan preventif. Begitu juga ketika Ibnu Mas’ud memberikan fatwa, bahwa ‘iddahnya perempuan yang ditinggal mati oleh suami, sementara ia sedang hamil, adalah sampai melahirkan, berdasarkan firman Allah:

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya”.  (QS. At Thalaq : 4)

Dia memberikan fatwa demikian karena menurut asumsinya bahwa surat At-Thalaq tersebut turun setelah surat Al-Baqarah. Continue reading “Pertumbuhan Ilmu Ushul Fiqh”

10 Aspek Pribadi Muslim

10muwassafattarbiyah

Di dalam Al Qurán dikatakan bahwa Ummat Islam adalah ummat yang terbaik yang dikeluarkan oleh Allah swt ke muka bumi ini. Di ayat lain dikatakan bahwa Ummat Islam adalah ummat yang paling tinggi derajatnya jika mereka beriman. Tentu saja Allah swt tidak sembarang dalam menyatakan pernyataan ini dan tentu saja apa yang dikatakan Allah swt pasti sesuatu yang benar. Sebagaimana yang selalu kita baca setiap kali selesai membaca Al Qurán, Shadaqallaahu al Azhim Maha Benar Allah lagi Maha Agung. Oleh karena itu, melihat sejarah generasi ummat terbaik maka paling tidak ada 10 aspek dari pribadi setiap muslim yang harus mereka perhatikan sehingga bisa disebut sebagai ummat terbaik. 10 aspek yang ini kemudian disebut Muwashafat Tarbiyah. Hasan Al Banna menyusunnya untuk membentuk pribadi setiap anggota Ikhwanul Muslimin agar menjadi mujahid-mujahid yang siap mengemban amanah dakwah, beramal , dan berjihad di jalan Allah swt sehingga terlahirlah kembali ummat yang terbaik seperti yang difirmankan Allah swt. Adapun 10 aspek tersebut adalah : Continue reading “10 Aspek Pribadi Muslim”