Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illalaahu Allaahu Akbar
Allaahu Akbar Wa lillaahi al hamdu

Suara takbir, tahlil, dan tahmid menggema seantero negeri. Membesarkan Allah, Rabb yang Maha Agung. MengEsakan Allah, Rabb yang Maha Suci. Memuji-Nya dengan berbagai macam pujian atas segala nikmat yang telah dicurahkan-Nya kepada hamba-Nya. Kini hari raya telah di depan mata. Bulan suci Ramadhan yang selalu dinanti telah berlalu membawa segala catatan-catatan amal kita kehadirat Allah swt. Maka beruntunglah mereka yang telah berikhtiar semaksimalnya dengan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan. Yang mendapat Maaf dan Ampunan dari-Nya, yang mendapat pahala atas ibadahnya. Namun merugilah mereka yang lalai dalam mengisi Ramadhannya. Tiada jaminan kita kan jumpa lagi dengannya. Ramadhan telah berlalu dan tibalah hari raya hari kemenangan bagi para kader-kader Ramadhan.
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Allaahu Akbar
Laa ilaaha illalaahu Allaahu Akbar
Allaahu Akbar Wa lillaahi al hamdu
Di hari raya ini, izinkan kami memohon secercah maaf atas segala salah dan khilaf selama ini. Kami sebagai manusia tentu tak lepas dari salah dan khilaf sebagaimana tak ada gading yang tak retak. Sudi kiranya tuan memberikan maaf sebagai pelengkap ibadah kami dan sebagai pelengkap pertobatan kami kepada Allah. Semoga di hari raya ini kita semua kembali kepada kesucian, kembali ke fitrah sebagai hamba Allah.
Selamat hari raya Idul Fitri 1435 H
Taqabbalallaahu minna wa min kum. Shiyaamanaa wa shiyaamukum
Minal Aidin wal Faidzin Maaf Lahir Batin

Peta/Denah Universitas Hasanuddin

Peta Universitas Hasanuddin

Beberapa hari yang lalu saya mendapat tugas untuk membuat peta/denah topologi jaringan Universitas Hasanuddin di atas peta kampus. Saya mencari-cari gambar peta yang bisa digunakan dan hasilnya nihil. Sudah dicari di google pencarian tapi tidak dapat-dapat juga. Akhirnya google maps yang menjadi pilihan terakhir. Namun saya harus sedikit kecewa karena petanya tidak bisa capture secara utuh. Mau pake Google Earth harus download lagi. Terpaksa deh dikombinasikan dengan Snipping Tools bawaan Windows dan hasilnya seperti ini.. Alhamdulillah 🙂 Versi yang lebih gede di sini

Mata Air Keluhuran

air-terjun-62

Oleh : Anis Matta, Lc

Galau benar hati sang raja. Putra mahkotanya ternyata seorang pemuda malas, apatis. Talenta raja – raja tidak terlihat dalam pribadinya. Suatu saat sang raja menemukan cara mengubah pribadi putranya : the power of love.

Sang raja mendatangkan gadis – gadis cantik ke istananya. Istana pun seketika berubah jadi taman : semua bunga mekar disana. Dan terjadilah itu. Sesuatu yang memang ia harapkan : putranya jatuh cinta pada salah seorang diantara mereka. Tapi kepada gadis itu sang raja berpesan, “Kalau putraku menyatakan cinta padamu, bilang padanya, “Aku tidak cocok untukmu. Aku hanya cocok untuk seorang raja atau seseorang yang berbakat jadi raja”.

Benar saja. Putra mahkota itu seketika tertantang. Maka iapun belajar. Ia mempelajari segala hal yang harus diketahui seorang raja. Ia melatih dirinya untuk menjadi raja. Dan seketika talenta raja – raja meledak dalam dirinya. Ia bisa, ternyata. Tapi karena cinta.
Cinta telah bekerja dalam jiwa anak itu secara sempurna. Selalu begitu : menggali tanah jiwa manusia, sampai dalam, dan terus ke dalam, sampai bertemu mata air keluhurannya. Maka meledaklah potensi kebaikan dan keluhuran dalam dirinya. Dan mengalirlah dari mata air keluhuran itu sungai – sungai kebaikan kepada semua yang ada di sekelilingnya. Deras. Sederas arus sungai yang membanjir, desak mendesak menuju muara. Cinta menciptakan perbaikan watak dan penghalusan jiwa. Cinta memanusiakan manusia dan mendorong kita memperlakukan manusia dengan etika kemanusiaan yang tinggi.
Jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarah kepribadian kita. Cinta, kata Quddamah, mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut. Kalau cinta kepada Allah membuat kita mampu memenangkan Allah dalam segala hal, maka cinta kepada manusia atau hewan atau tumbuhan atau apa saja, mendorong kita mempersembahkan semua kebaikan yang diperlukan orang atau binatang atau tanaman yang kita cintai. Jatuh cinta membuat kita mau merendah, tapi sekaligus bertekad penuh untuk menjadi lebih terhormat.
Cobalah simak cerita cinta Letnan Jendral Purnawirawan Yunus Yosfiah. Ketika calon istrinya menyatakan bersedia hijrah dari katolik menuju islam, ia bergetar hebat. ”Kalau cinta telah mengantar hidayah pada calon istrinya,” katanya membatin, ”Seharusnya atas nama cinta ia mempersembahkan sesuatu yang istimewa padanya.” Ia sedang bertugas di Timor Timur saat itu. Maka ia berjanji, ”Besok aku akan berangkat untuk sebuah operasi. Aku berharap bisa memeprsembahkan kepala dedengkot Fretilin untukmu.” Tiga hari kemudian, janji itu ia bayar lunas.
Gampang saja memahaminya. Keluhuran selalu lahir dari mata air cinta. Sebab, ”cinta adalah gerak jiwa sang pencinta kepada yang dicintrainya”, kata Ibnu Qoyyim.

Dari majalah Tarbawi edisi 81 Th.5/Shafar 1425 H/2 April 2004 M

Belajar dari Menanam Pohon

pohon

Pohon sangat ”akrab” dengan diri kita. Hampir tiap insan pernah menanam pohon. Dalam menanam pohon apapun, setidaknya kita selalu memeperhatikan lima kondisi agar menjadikannya unggul, berkualitas dan menjadi naungan sekelilingnya.
Siapapun yang menanam pohon, pasti memperhatikan bibit. Karena bibit yang unggul menentukan apakah suatu pohon kelak berkualitas atau tidak. Demikian pula karakter, sifat dan akhlak seorang muslim, adalah faktor penting bagi tumbuh atau tidaknya ia menjadi salah satu kelompok yang diunggulkan.
Faktor yang tidak kalah penting adalah tanah atau lingkungan. Sebuah bibit unggul sekalipun, jika tumbuh di tanah kering, tidak kondusif atau tercemar, akan menumbuhkan pohon yang tidak berkualitas. Begitupun manusia, apapun sifat dasarnya, jika hidup di lingkungan ”tidak sehat” besar kemungkinan akan tumbuh tidak berkualitas. Continue reading “Belajar dari Menanam Pohon”

Fatwa-fatwa tentang Selamat Natal

Sore tadi saya sharing di twitter soal boleh atau tidaknya sesorang yang beragama Islam mengucapkan “selamat natal” terhadap sahabatnya yang non Islam. Saya melihat perdebatan di Twitter sudah seperti debat kusir, dan ironisnya yang terlibat debat kusir justru orang-orang yang dianggap senior, intelektual, dan jam terbang di masyarakat sudah tinggi.

Miris rasanya melihat kelakuan seperti itu di Twitter, apa ya tidak malu jika dilihat dan dibaca oleh followernya? Masalah utamanya adalah saya sangat yakin pihak yang pro dan kontra pengucapan selamat natal tersebut belum membaca fatwa baik yang pro dan kontra pengucapan selamat natal. Mengapa saya yakin? simple, mengutip redaksi fatwa saja salah.

twitter

Agar tidak terjadi kekisruhan maka tadi sore saya share di Twitter fatwa dari kedua kubu. Fatwa sendiri memang ranah “ijtihad” sehingga tidak bisa saling menggugurkan karena terkait situasi dan kondisi seorang mujtahid ketika mengeluarkan fatwa tersebut. Berikut ini adalah fatwa dari pihak pro dan kontra.

View original post 981 more words

Halaqah Tarbawi

Halaqah adalah salah satu sarana Tarbiyah. Halaqah ini adalah sebuah kelompok kecil yang beranggotakan seorang naqib dan beberapa a’dha, atau mad’u, atau bisa disebut dengan nama binaan. Halaqah biasa juga disebut dengan usrah (keluarga). Penamaan-penamaan ini sebenarnya adalah cerminan dari fungsi halaqah dalam membina, membentuk para anggotanya. Halaqah ini dilakukan setiap pekan dan memiliki agenda-agenda yang tersusun sehingga apa yang diharapkan dari pelaksanaannya bisa tercapai.

Kelompok kecil ini disebut halaqah karena orang-orangnya membentuk lingkaran ketika bertemu setiap pekannya. Jadi pada halaqah ini tak ada perbedaan posisi antara naqib dengan mad’u-nya. Berbeda dengan majelis ta’lim yang biasanya ustadz berada di depan sendiri dan jamaahnya berada pada barisan tersendiri. Namun pada halaqah posisi naqib itu membaur dengan mad’u-nya.

Kelompok kecil ini disebut usrah karena salah satu fungsi naqib yaitu fungsi orang tua. Naqib menjadi orang tua bagi mad’u-nya. Itulah salah satu keistimewaan kelompok ini karena ia dibentuk untuk menumbuhkan rasa kekeluargaan di antara sesamanya. Memberikan nasehat, solusi atas permasalahan yang dihadapi oleh setiap pribadi di dalam usrah tersebut. Berbagi kabar gembira dan kabar duka serta saling memotivasi agar senantiasa komitmen dalam berislam. Continue reading “Halaqah Tarbawi”