Sajak anak Forsil

Terkadang, tawa itu penuh makna,
Kadang jg berupa tanya,
Dan tak jarang sbg tanda,
Pengganti kata2 tak tereja
(AH)
Senyum pun demikian adanya,
Penyampai pesan tanpa tinta,
Sampai kadang timbul prasangka,
Bahkan amarah merajalela
(AH)
Pun dgn marah,
Raut wajah tak lg indah,
Namun sbenarx ia adalah titah,
Bhwa jiwa sedang merekah
(HR)
Pun dengan diam
Dalamnya tak dapat diselam
Seperti laut yang dalam
Namun janganlah menyimpan dendam
(MS)
Tiap kita tdklah sama,
Laksana pelangi brbagai warna,
Hanya pengertian berbingkai rasa,
Agar kita tetap satu jua
(HR)
Kita berbeda sudah takdir Allah
Bermacam tabiat bermacam rupa
Jika ada khilaf dan salah
Beri maaf janganlah lupa
(MS)
Hidup hanya sekali
Kita tidak pernah tahu kapan akan pergi
Baiknya kita selalu mengingat mati
Semoga kita terus mampu membaiki diri
(SF)

Advertisements

Diam dan Dengar

diam lebih baik

Manusia memang makhluk yang penuh dengan keluh kesah. Tiada hari tanpa keluh tiada hari tanpa kesah. Ada-ada saja yang bisa dikeluhkan. Mulai dari hal-hal kecil, sepele sampai urusan-urusan yang besar. Dari urusan pribadi hingga urusan orang lain. Coba tengok News Feed Facebook tak sedikit yang berjejer di sana adalah keluh kesah si anak cucu Adam.  “Aduuhh sudah telat di suruh duduk depan lagi” atau “bosssaaannn” dan berbagai keluhan yang lain.

Yaa.. itu wajar saja. Begitulah fitrah manusia. Ia memang dicipta penuh keluh dan kesah, kata guruku. Namun kenyataannya, ada juga di antara manusia mereka yang pantang mengeluh. Musibah, cobaan, kesusahan hidup tak lantas menggerakkan mulut dan lisannya melontarkan sedikitpun keluh. Kepada dirinya saja tidak apalagi kepada orang lain. Ada ketegaran di setiap langkah mereka. Continue reading “Diam dan Dengar”