Pertumbuhan Ilmu Ushul Fiqh

Muhammad Abu Zahrah

Oleh : Muhammad Abu Zahrah

Ilmu ushul fiqh tumbuh bersama-sama dengan ilmu fiqh, meskipun ilmu fiqh dibukukan lebih dahulu dari pada ilmu ushul fiqh. Karena dengan tumbuhnya ilmu fiqh, tentu ada metode yang dipakai untuk menggali ilmu tersebut. Dan metode itu tidak lain adalah ilmu Ushul Fiqh.

Jika penggalian hukum fiqh setelah wafatnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah pada masa shahabat, maka para fuqaha’ pada masa itu seperti Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib dan Umar ibn Khattab tidak mungkin menetapkan hukum tanpa adanya dasar dan batasan. Bila seseorang mendengar bahwa Ali bin Abi Thalib menetapkan sanksi (pidana) bagi orang yang meminum minuman keras, dan orang yang menuduh orang lain berbuat zina tanpa ada bukti, tentu beliau melalui prosedur penetapan hukum yang legal, atau menetapkan hukum berdasarkan preventif. Begitu juga ketika Ibnu Mas’ud memberikan fatwa, bahwa ‘iddahnya perempuan yang ditinggal mati oleh suami, sementara ia sedang hamil, adalah sampai melahirkan, berdasarkan firman Allah:

“Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya”.  (QS. At Thalaq : 4)

Dia memberikan fatwa demikian karena menurut asumsinya bahwa surat At-Thalaq tersebut turun setelah surat Al-Baqarah. Continue reading “Pertumbuhan Ilmu Ushul Fiqh”

Advertisements

Definisi Ilmu Ushul Fiqh

Muhammad Abu ZahrahOleh : Muhammad Abu Zahrah

Ushul fiqh adalah tarkib idhafi (kalimat majemuk) yang telah menjadi nama bagi suatu disiplin ilmu tertentu. Ditinjau dari segi etimologi, ushul fiqh terdiri dari mudhaf dan mudhaf ilaih. Menurut aslinya kalimat tersebut bukan merupakan nama bagi suatu disiplin ilmu tertentu, tetapi masing-masing mudhaf dan mudhaf ilaih mempunyai pengertian sendiri-sendiri. Untuk itu, sebelum memberikan defenisi ushul fiqh, terlebih dahulu kita harus mengetahui pengertian lafazh “ushul” (yang menjadi mudhaf) dan lafazh “fiqh” (yang menjadi mudhaf ilaih).
Fiqh secara etimologi berarti pemahaman yang mendalam tentang tujuan suatu ucapan dan perbuatan. Seperti firman Allah yang berbunyi: “Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun” (QS. An Nisa: 78)

Juga sabda Rasulullah yang berbunyi:

مَنْ يُرِدِ اللّٰهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقّهْهُ فِى الدّيْنِ
“Barangsiapa dikehendaki Allah sebagai orang baik, pasti Allah akan memahamkannya dalam persoalan agama.” Continue reading “Definisi Ilmu Ushul Fiqh”