Belajar Dari Jam Dinding

Belajar dari jam dinding

Pernahkah anda memperhatikan jam dinding di rumah atau tempat anda bekerja? Cobalah sejenak perhatikan agar kita bisa memetik sebuah pelajaran darinya.

Jam dinding, dilihat orang ataupun tidak ia tetap berdenting. Tak sekalipun dia berhenti karena kecewa dengan orang yang tak melihatnya.

Jam dinding, dihargai atau tidak dia tak berhenti berputar sebagaimana mestinya. Jangankan berputar balik, berhenti saja ia tidak sudi.

Jam dinding, meski tak seorang pun mengucapkan terima kasih, ia tetap bekerja. Setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik.

Belajar dari jam dinding belajar tentang keikhlasan.
Belajar dari jam dinding belajar tentang tanggung jawab.
Belajar dari jam dinding belajar tentang memberi manfaat

Teruslah berbuat baik kepada sesama meskipun perbuatan kita tidak dinilai atau diperhatikan orang lain.
Teruslah berbuat baik kepada sesama meskipun tak seorang mengucapkan terima kasih dan apresiasi.
Ibarat jam dinding yang terus bekerja, memberi kemanfaatan bagi sekitarnya

Advertisements

Inilah jalanku

Bismillahi Rahmani Rahim

Innalhamda lillah nahmaduhu wa nasta’iinuhuu wa nastaghfiruhuu wa na’uudzu billahi min syuruurinaa wa anfusinaa min sayyiaatinaa a’maalinaa man yahdillahu falaa mudhillalahu wa man yudhlilhu falaa hadiiyalahu. Asyahudu anlaa ilaaha illallaahu wa asyahadu anna muhammadan abduhuu wa rasuuluhu. Allaahumma Shalli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aalihii wa sahib ajmain ammaa ba’du.

Segala puji Allah swt yang telah mentakdirkan saya lahir di tengah-tengah keluarga muslim. Keluarga yang mendidik dan membesarkanku dengan nilai-nilai Islam. Berbeda dengan sebagian manusia yang harus lahir di tengah keluarga yang belum memeluk agama Tauhid ini, agama yang dibawa oleh seluruh nabi dan rasul yang pernah diutus oleh Allah Tuhan Yang Maha Esa. Mereka yang telah terlahir dengan fitrah, bersih, suci tanpa noda, yang telah bersaksi di alam rahim bahwa Allah-lah Tuhan (Rabb) mereka. Namun setelah lahir ke dunia bukanlah suara adzan dan iqamat yang mereka dengar, bukanlah seruan kepada Allah yang diserukan kepada mereka. Mereka yang harus dibesarkan jauh dari nilai-nilai Islam dan nilai-nilai ketauhidan. Sekali lagi ucapan puji syukur tak terbatas saya haturkan kepada Allah swt atas nikmat yang sangat besar ini. Nikmat yang tidak bisa dibeli dengan materi. Continue reading “Inilah jalanku”

Sebuah Nasehat “Nikmat Islam”

apabila kita telah mengetahui bahwasanya ALlah swt mengharamkan syurga bagi mereka yang kufur terhadapnya maka dari itu kita tahu bahwa sebesar-besar nikmat adalah Nikmat Islam.

Apabila Allah menginginkan bagi hambanya kebaikan bagi dia dimatikan dalam beragam Islam dan Rasulullah saw pernah berdoa “Wahai yang menetapkan hati tetapkanlah hatiku di atas agamamu”.

Salah satu fitnah akhir zaman orang yang malamnya muslim dan paginya kafir atau orang yang paginya kafir dan malamnya dia beriman

setiap perkara yang ditarik dari kita pasti ada gantinya dari Allah kecuali agama maka tiada gantinya.

jadikanlah hatimu gembira ketika menyembah Allah Continue reading “Sebuah Nasehat “Nikmat Islam””

Al Ikhlas

Dalam rukun bai’at kedua, Imam syahidnya meletakkan Al-Ikhlas setelah rukun Baiat pertama Al-Fahmu. Hal ini mengisyaratkan bahwa Al-Fahmu akan memunculkan keikhlasan, dan keikhlasan akan sempurna jika diiringi dengan pemahaman.

Imam as-syahid berkata: “Yang saya maksud dengan ikhlas adalah seorang al-akh hendaknya mengorientasikan perkataan, perbuatan dan jihadnya kepada Allah; mengharap keridhaan-Nya dan memperoleh pahala-Nya, tanpa memperhatikan keuntungan materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara fikrah dan aqidah, bukan tentara kepentingan dan yang hanya mencari manfaat dunia. “Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam”. (Al-An’am:162). Dengan begitu, seorang Al-akh telah memahami makna slogan abadinya: “Allah tujuan kami”. Sungguh Allah Maha Besar dan bagi-Nya segala puji.

Makna Ikhlas

Ikhlas adalah menginginkan keridhaan Allah dengan melakukan amal dan membersihkan amal dari berbagai polutan duniawi. Karena itu, seseorang tidak mencemari amalnya dengan keinginan-keinginan jiwa yang bersifat sementara, seperti menginginkan keuntungan, kedudukan, harta, ketenaran, tempat di hati manusia, pujian dari mereka, menghindari cercaan dari mereka, menghindari bisikan nafsu, atau penyakit-penyakit dan polutan-polutan lainnya yang dapat dipadukan dalam satu kalimat, yaitu melakukan amal untuk selain Allah, apapun bentuknya.

Ikhlas dengan pengertian seperti itu merupakan salah satu buah dari kesempurnaan tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Oleh karena itu, riya yang merupakan lawan dari ikhlas dianggap kesyirikan.
Syaddad bin Aus berkata: “Di masa Rasulullah saw, kami menganggap riya sebagai syirik kecil”. Majmu az-zawaid, kitab Az-Zuhdi, bab “Majaahurriya, jilid 10 hal. 225
Continue reading “Al Ikhlas”