Mustafa Masyhur

Mustafa Masyhur; Mursyid Am kelima Ikhwanul Muslimin

Kehidupan beliau

Beliau lahir pada tanggal 15 September tahun 1921 di kota As-Sa’din dari kota Manya al-qamh, propinsi Timur. Ikut dalam belajar pada penulis desa sejak dua tahun. Kemudian masuk sekolah dasar di desanya, kemudian masuk sekolah I’dad di Manya Al-Qamh, lalu sekolah tsanawiyah (setingkat SMA) di Zaqaziq, setelah tinggal di Zaqaziq selama dua tahun mengikuti sekolah tsanawiyah, beliau pindah ke Kairo dan menyempurnakan sekolah tsanawiyahnya di sana, lalu masuk kuliah di universitas Kairo kuliah al-ulum, dan tamat pada tahun 1942.
Continue reading “Mustafa Masyhur”

Umar At-Tilimsani

Beliau diangkat menjadi Mursyid Am ketiga Ikhwanul Muslimin setelah ustadz Hasan Al-Hudaibi; mursyid kedua Ikhwanul Muslimin meninggal dunia.

Riwayat Hidup:

Pada tanggal 4 bulan November tahun 1904, lahir di Jalan al-Husy depan Balghoriyah, desa ad-darb al-ahmar Kairo, seorang bayi yang bernama lengkap, “Umar Abdul Fattah Abdul Qadir Mustafa At-Tilmisany” dan julukan At-Tilmisani bukan berasal dari Mesir asli, karena kakek dari bapaknya berasal dari daerah Tilmisani Al-Jazair, datang ke kota Kairo dan bekerja sebagai pedagang, dan menjadi pembesar dari kumpulan orang-orang kaya.

Umar At-Tilmisani menikah pada umur yang sanagt muda, yaitu pada usia delapan belas tahun dan masih menjadi pelajar di sekolah umum tingkat atas (SMU-red) dan beliau tidak menikah lagi setelah sampai Allah mewafatkannya pada bulan Agustus 1979, setelah Allah memberikan kepadanya empat orang anak: Abid, Abdul Fattah, dan dua orang putri. ”

Dan ketika beliau berhasil menerima ijazah licence sebagai Sarjana Hukum, beliau bekerja sebagai pengacara, dan membuka kantor sendiri di daerah Syibin Al-Qanatir, dan pada tahun 1933 beliau bertemu dengan Ustadz “Hassan al-Banna” di rumahnya, yang mana ketika itu beliau tinggal di Jalan Abdullah Bek, gang Al-Yakniyah di distrik Al-khayamiyah, dan langsung berbai’at. Dan sejak saat itu beliau resmi menjadi anggota jamaah Ikhwanul Muslimin, dan menjadi orang pertama dari seorang pengacara yang mewakili Ikhwan untuk memberikan pembelaan atas anggota Ikhwan yang ditangkap di pengadilan Mesir.
Continue reading “Umar At-Tilimsani”

Hassan Al-Hudaibi … Mursyid Am Ikhwanul Muslimin kedua

Beliau adalah seorang Konsultan dan jaksa, bernama lengkap Hasan Ismail Al-Hudaibi, jabatan terakhirnya sebagai mursyid kedua jamaah Ikhwanul Muslimin, dan merupakan mursyid yang mengalami masa sulit dan penuh dengan ujian dan cobaan, karena pada saat beliau diangkat menjadi mursyid berada pada masa terjadinya perselisihan antara para pejuang revolusi, terutama mantan presiden Jamal Abdul Naser. Dan sebagai masa dimana para anggota jamaah banyak yang ditangkap, dipenjara dan disiksa; dan pemerintah pada saat itu berusaha melakukan pembersihan jamaah Ikhwanul Muslimin dengan kekuatan dan kekerasan dari bumi Mesir dan dunia.

Perjalanan hidup, sejarah singkat kepribadian dan karakter Hassan Al-Hudaibi

Hasan Al-Hudaibi lahir di desa Arab Al-Shawalihah, distrik Syibin Al-Qanatir, tahun 1309 yang bertepatan pada bulan Desember 1891 M. menghafal Qur’an di desanya sejak kecil, kemudian masuk sekolah formal di Al-Azhar yang semangat keagamaan nya yang tinggi dan ketakwaan yang suci. Kemudian setelah itu pindah ke sekolah negeri dan mendapatkan ijazah SD pada tahun 1907, lalu masuk sekolah Aliyah Al-Khadiwiyah (setingkat SMA) dan mendapat gelar BA pada tahun 1911, kemudian meneruskan kuliah di bagian hukum, dan lulus darinya pada tahun 1915. Setelah itu menjalankan masa percobaan menjadi pengacara di Kairo dan secara bertahap menjadi pengacara yang sesungguhnya.

Setelah menjadi pengacara, beliau bekerja sesuai profesinya di distrik Syibin Al-Qanatir, lalu untuk pertama kali dalam hidupnya dan tanpa diketahui oleh seorang pun, beliau pergi ke daerah Sohaj dan tinggal di sana hingga tahun 1924, dan di sana beliau menjadi jaksa. kemudian pindah ke daerah Qana, lalu pindah ke daerah Naja’ Hamady tahun 1925, lalu pindah lagi ke daerah El-Manshurah tahun 1930, dan tinggal di daerah Al-Mania selama satu tahun, kemudian pindah ke daerah Asyuth, lalu ke Zaqaziq, lalu ke Giza pada tahun 1933, dan pada akhirnya menetap di Kairo.
Continue reading “Hassan Al-Hudaibi … Mursyid Am Ikhwanul Muslimin kedua”

Islam dalam Menghadapi Kezhaliman dan Tirani

Risalah dari Prof. Dr. Mohammad Badi, Mursyid Am Ikhwanul Muslimin, 01-10-2010

Penerjemah:

Abu ANaS

________

Bismillah, shalawat dan salam atas Rasulullah saw dan orang-orang yang mendukungnya.. waba’du..

Adalah merupakan sunnatullha kehidupan umat Islam senantiasa berhadapan dengan umat yang ingkar kepada Allah dan angkuh terhadap syariat Allah, seperti menimbang-nimbang fatwa jika ada yang lebih kuat maka yang lainnya dikalahkan dan disingkirkan, jika umat Islam mau jujur dihadapan Allah dan sempurna dalam menunaikan manhaj dan syariat Allah, niscaya Allah akan memberikan berbagai sebab kemenangan, imunitas (kekebalan) dan kemuliaan..

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ

“Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, Maka dengan serta merta yang batil itu lenyap”. (Al-Anbiya:18)

Namun jika umat menyia-nyiakan syariat dan hukum-hukum Allah, sehingga kemungkaran menyebar ditengah mereka dan hilang amar ma’ruf di tengah mereka, maka akan merajalela pula kezhaliman, kerusakan dan kekejaman atas yang lainnya dengan bentuk kezhaliman, kekerasan dan penghinaan yang beragam.

Jika banyak dari umat Islam yang marah – dan mereka mempunyai hak untuk itu – untuk meluruskan beberapa penyimpangan seperti ancaman pembakaran mushaf, yang harus mereka sadari adalah bahwa ketika mereka menyimpang dari syariat Allah dan ajaran-ajaran-Nya dan menyebar tindak kezhaliman di tengah mereka, maka merekapun akan tertimpa kehinaan dan cinta dunia yang berlebihan, sungguh benar sabda Nabi saw dalam haditsnya:

وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Sungguh Allah akan mencabut dari dada musuh-musuh kalian rasa takut dan kewibawaan dari kalian, dan akan menimpa dalam diri kalian al-wahn, mereka (para sahabat) berkata: apa yang dimaksud dengan Al-wahn ya Rasululah: beliau bersabda: cinta dunia dan takut mati”. (Abu Daud)

Kehancuran suatu bangsa karena kezhaliman dan tirani

Kezhaliman itu ada dua:

1. Kezhaliman manusia terhadap dirinya sendiri berupa kefasikan, kejahatan, dan keluar dari taat kepada Allh, serta saling menzhalimi diantara mereka,
Continue reading “Islam dalam Menghadapi Kezhaliman dan Tirani”