Ana Uhibbukum fillah

tasbih

Pernah suatu masa Rasul Saw yang mulia bertutur “Di sekitar Arsy  akan ada menara cahaya, penghuninya berpakaian cahaya, mereka bukan nabi bukan pula syuhada namun para nabi dan syuhada iri kepada mereka”
Siapakah gerangan mereka? Apa yang telah mereka perbuat? Kebaikan apa yang mereka miliki sehingga memiliki kemulian di sisi Tuhannya sedemikian rupa? Sehingga para nabi terdahulu dan para syuhada merasa iri akan kemulian yang mereka raih?
Rasulullah saw melanjutkan kalimatnya “Merekalah yang saling mencintai karena Allah, saling bersahabat karena Allah, dan saling mengunjungi karena Allah”.

Telah tersingkap tabirnya, telah nampak cahayanya, rahasia kemulian mereka. Tak lain dan tak bukan adalah ikatan persaudaraan yang mereka bangun tegak di atas kekokohan aqidah Islam. Itulah ukhuwah, hubungan manusia yang tak berlandaskan darah, harta, atau dunia. Hubungan manusia yang menjadikan Allah sebagai perekatnya, Allah sebagai tujuannya, Allah sebagai motivasinya.

Teringat kisah penghulu kita Nuh as ketika memohon kepada Tuhannya agar sang putra diampunkan atas kesalahannya. Tuhannya yang Maha Agung berfirman “Wahai Nuh dia bukanlah bagian dari keluargamu karena perbuatannya bukan perbuatan yang shaleh”. Sungguh inilah pelajaran bagi kita, ummat akhir zaman. Di mana kilau gemerlap dunia lebih menyilaukan mata kita dari cahaya kemulian Allah. Hubungan apapun di dunia ini hanyalah hubungan yang fana bahkan hubungan darah sekalipun. Kecuali hubungan yang kita bangun di atas pondasi keimanan pada-Nya, bernaung di bawah atap Keridhaan-Nya. Itulah hubungan yang kekal hingga hari yang telah dijanjikan. “Sesungguhnya hanya orang-orang mukminlah yang mampu menjalin ukhuwah”. Yaa begitulah kita kembali diingatkan oleh-Nya. Tak akan bisa ukhuwah terbangun tanpa iman. Jika ukhuwahmu bermasalah maka periksalah imanmu. Mungkin dia sedang tak baik-baik saja. Jika ukhuwahmu bermasalah maka periksalah hatimu. Mungkin ada sakit di dalamnya.

Cintamu kepada saudaramu semoga kelak menjadi alasan di hadapan-Nya untuk mendapatkan kemulian di Sisi-Nya. Semoga dirimu kelak menjadi saksi bagi sahabatmu untuk mendapatkan Kemurahan-Nya. Semoga jejak-jejak kaki, tetesan keringat karena perjalanan menjenguk saudaramu menjadi saksi agar Allah memberikan Keridhaan-Nya.

Ukhuwah bagai seutas Tasbih
Ada awal namun tiada akhir
Dicipta untuk mengingat-Nya
Disusun untuk mengharap Ridha-Nya

Iman, Ukhuwah, dan Lisan

Teringat dengan ayat Allah di dalam Al Qur’an surah Al Hujurat ayat 10 :
انما المومنون اخوه فاصلحوا بين اخويكم واتقوا الله لعلكم ترحمون
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang beriman yang (mampu) bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”.

Sungguh indah perkataan Allah swt mengajarkan kepada manusia tentang hakikat persaudaraan manusia yang sebenarnya. Hakikakt yang diikat dengan iman kepada Allah swt bukan dengan yang lain. Bukan darah, bukan bangsa, bukan suku, atau simbol-simbol dunia yang lainnya. Sayyid Quthb mengatakan “Ikatan agama ini bukan ikatan darah dan nasab, bukan ikatan tanah air dan bangsa, bukan ikatan kaum dan marga, bukan ikatan warga kulit dan bahasa, bukan ikatan ras dan suku, juga bukan ikatan profesi dan status sosial”
Continue reading “Iman, Ukhuwah, dan Lisan”